Jumat, 01 Oktober 2010

Bahagia dan Perasaan Hati


Jiwa dari Icwara adalah berada didalam semua makhluk hidup. Tetapi oleh karena didalam tubuh, Ia menjadi pusat awidya dan keakuan. Ia menimbulkan perasaan hati pada manusia, lalu Ia hidup didunia ini dan memerlukan pertumbuhan. Dalam pertumbuhannya itu, Ia mencari kebahagiannya.

Didalam hidup sehari-hari bila kita melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa atau keburu nafsu, kadang-kadang mengakibatkan kehancuran. Demikian juga jika kita marah atau putus asa akan mengakibatkan ketidakselarasan. Jadi sabar dan tahan uji, adalah dasar perasaan hati yang normal pada setiap manusia. Bila benar caranya kecerdasan itu mengemudikan perasaan, maka hal itu disebut kebajikan. Dan orang yang melakukan hal itu akan dipandang sebagai orang yang baik. Dalam hal ini ia menjadi orang yang budiman, pengasih manusia dan pencinta setiap makhluk. Perasaan hatinya berkembang, dikuasai oleh rasa cinta yang makin mendalam dan akhirnya ia mencapai jiwamukti, yaitu kebebasan rohani yang tertinggi semasih ia hidup didunia ini. Orang yang mencapai keadaan yang demikian itu disebut jiwamukta.

Di dalam Weda Brhadaranyaka Upanisad disebut bahwa Brahman adalah “wijnanam anandam Brahma”, yang maksudnya Brahman adalah kebijaksanaan dan kebahagiaan. Disamping itu di dalam kitab-kitab suci disebutkan juga bahwa Brahman itu bersifat Kebenaran-Kesadaran-Kebahagiaan. Oleh karena Brahman dan Jiwatman pada dasarnya sama, maka alam jiwatman itupun bersifat bahagia. Begitu juga Brahman mempunyai sifat yang bersih dan suci, maka oleh karena itu jiwatman pun bersifat bersih, suci dan bahagia.

Alam ini tidak dipisah-pisahkan karena kesatuan adalah kesucian, dan perasaan kesatuan itu adalah kebahagiaan. Inilah yang menjadi sebab manusia selalu mencari kepuasan akan kebahagiaan karena memang sudah menjadi sifatnyalah untuk mencapai kebahagiaan dan selalu berusaha untuk mewujudkan sifat alamnya itu. Sepanjang perjalanan, ia terus mencari kebahagiaan. Inilah yang menjadi tujuan pertama dalam hidupnya. Didalam perjalanannya untuk mencapai kebahagiaannya itu, sering-sering ia menghadapi kesusahan dan kesenangan, dimana pada akhirnya ia melihat, bahwa kesucian, kebijaksanaan dan kebahagiaan adalah tunggal dan tak dapat dipisah-pisahkan, karena ketiga sifat ini adalah alam Icwara.

1 komentar:

mocca_chi mengatakan...

jadi istilahnya, ada dan sudah diarahkan untuk kesana dan akhirnya pasti akan kesana jika jalannya benar. karena pengarahan itu sendiri yng memberi jalan *bolak balik*

Poskan Komentar