Rabu, 28 Juli 2010

Kemarahan


Apabila tidak ada orang yang Ksamawan, ksamawan artinya : orang sabar dan tenang. Kesabarannya tidak bedanya dengan tanah, dalam hal keteguhan, tentu tidak ada persaudaraan sejati, sehingga nafsu-nafsu marah yang menyelubungi diri segala makhluk yang mengakibatkan akan terjadi perselisihan. Adapun orang yang dapat meninggalkan kemarahannya, berdasarkan sifat-sifat pengampunan, seperti halnya ular yang membuang kulit tuanya dan yang tidak akan dicarinya lagi, maka orang yang demikian itu adalah orang yang berbudi luhur dan patut disebut manusia sejati.

Sebenarnya meskipun seseorang itu selalu dapat mengalahkan musuhnya serta tidak terbilang jumlah musuhnya yang dibunuhnya dan setiap yang dibencinya pun musnah, akan tetapi jika ia senantiasa menuruti nafsu amarahnya maka sepanjang hidupnya pasti ia tidak henti-hentinya mempunyai seteru. Adapun orang yang sebenarnya tidak mempunyai musuh ialah mereka yang telah dapat mengendalikan nafsu kemarahannya.
Semisal ada suatu pemberian, yang diminum oleh orang yang bijaksana, pengaruh pemberian itulah yang sering menimbulkan panas dan sakit kepala, akan tetapi tidak akan berbahaya bagi orang bijaksana. Oleh karena pemberian itu dapat menimbulkan nestapa dan menghilangkan jasa makanya tidak boleh diminum oleh orang biasa.

Hanya orang yang berbudi luhur sajalah yang mampu meminumnya, oleh karena beliau benar-benar kuat. Demikianlah halnya nafsu kemarahan itu dan jika itu engkau yang minum, kuasailah terlebih dahulu pengaruhnya, agar dapat ditemui rasa ketenangan. adapun orang yang bersifat tenang itu tidaklah dibedakannya antara dirinya dengan segala makhluk lainnya, katanya : "oh kasihan!" sehingga beliau tidak berbuat kejam dan pemarah. Inilah kebahagiaan yang sejati. Kini beliau mendapatkan kebahagiaan maka di akhirat pun kelak beliau mendapatkan kebahagiaan. Adapun orang yang sering-sering bertengkar, ia selalu akan mendapat kesusahan dimanapun ia berada dan apapun yang diperbuat. Ditempat tidur sekalipun tidaklah tenang hatinya, seolah-olah seperti tidur dirumah yang berisi ular. Orang yang tidak nyenyak tidurnya ialah orang yang susah, orang yang takut, orang yang membenci sesuatu, orang yang sedang memikirkan pekerjaannya dan juga orang yang menderita asmara.

Singkatnya, lebih utamalah orang yang menguasai kemarahan dari pada yang dikuasai oleh kemarahan. Meskipun orang yang kedua lebih kaya, lebih berkuasa dan lain-lainnya. Begitu pula kesabaran, lebih mulia dari ketidaksabaran, biar bagaimanapun kekuasaan orang yang tidak penyabar itu. Demikian pula penjelmaan menjadi manusia, selalu lebih utama dari penjelmaan sebagai makhluk lain dari manusia, meskipun waktu menjadi makhluk lain itu lebih mendapat kesenangan. Menjadi orang suci/bijaksana itu lebih utama dari pada tidak menjadi orang suci/bijaksana, walaupun waktu tidak menjadi orang suci/bijaksana itu berlimpah-limpah akan harta kekayaan dan lain-lainnya. Karena orang yang dikuasai oleh kemarahan, segala persembahan, semua persedekahannya, segala tapanya, segala upacara yang dilakukannya, semua pahalanya diambil oleh dewa Yama. Ia tidak menerima pahala apa-apa kecuali kepayahan. Oleh karena itu kuasailah kemarahan.

Yang harus diperhatikan ialah bahwa tapa (keteguhan iman) itu harus dipegang teguh, dengan jalan memusnahkan kemarahan; kemakmuran itu dibina dengan jalan menghilangkan kedengkian. Jagalah ketinggian ajaran agama dengan menghilangkan kelobaan dan kecongkakan. untuk menjaga diri ialah dengan jalan tidak suka menghina orang lain. selain kemarahan itu dianggap sama dengan maut, kehausan atau kelekatan pada dunia ini dimisalkan sebagai sungai Waitarini yang amat kejam dan membahayakan, kadang-kadang amat sejuk dan kadang-kadang amat panas airnya. Teresna itu sama dengan air sungai Waitarini. Pengetahuan Agama dapat diumpamakan sebagai lembu keramat yang dapat mengeluarkan segala keinginan. Rasa kepuasaan itu sama dengan perasaan dalam Nandanawana yaitu taman Indra Loka yang penuh dengan serba keindahan. Orang yang dikuasai oleh kemarahan, tentu akan membuat dosa sampai pada akhirnya membunuh guru, mencela orang Saleh dan berkata-kata kasar. Tambahan pula orang yang dikuasai oleh kemarahan tidak sadar akan kekeliruannya, tak mau mengerti akan perbuatan yang terlarang dan selalu melakukan hal yang adharma, serta mengatakan apa yang tidak patut diucapkan. Sesunguhnya kemarahan itu adalah musuh dalam diri kita.

Orang yang menghilangkan kemarahannya akan dipuji, disenangi dan dihormati di dunia. Sekarang usahakanlah menghilangkan kemarahan itu, terutama kemarahan terhadap Tuhan, terhadap negara, pendeta, anak-anak, perempuan hamil, ibu-bapa, orang lanjut umur, orang sakit. Terhadap mereka itu semua harus diusahakan menghilangkan kemarahan. Dan lagi orang yang tahan kepada suka dan duka demi untuk kesempurnaan kebajikan dan kegunaan (artha dan dharma) sabar akan baik dan buruknya ucapan orang lain, berhasil ia mengendalikan kemarahannya, maka dengan keteguhan iman ini masyarakat mendapatkan kesenangan dari padanya.

0 komentar:

Poskan Komentar