Senin, 26 Juli 2010

Prihal Tri Kaya (perkataan, perbuatan, pikiran)


Ada yang disebut perbuatan yang disadari oleh pengendalian hawa nafsu yang 10 banyaknya yang harus dilaksanakan. Perinciannya : Gerak pikiran ada 3 banyaknya prilaku, ucapan ada 4; gerak perbuatan ada 3. Singkatnya segala gerak dari perbuatan, perkataan dan pikiran (bayu, sabda, idep) itulah yang harus diperhatikan. Prilaku pikiran itu pertama diuraikan, jumlahnya ada 3 yang terdiri dari 1. Tidak dengki dan iri hati akan milik orang lain. 2. Tidak marah terhadap makhluk apapun. 3. Percaya akan kebenaran ajaran karmaphala. Demikianlah 3 macam prilaku pikiran yang merupakan cara pengendalian hawa nafsu.

Adapun 4 hal yang tidak boleh diucapkan yaitu : perkataan kotor, perkataan kasar, perkataan memfitnah dan perkataan bohong. Keempat hal inilah ucapan-ucapan yang harus dibatasi, tidak boleh diucapkan dan malah jangan juga dipikirkan ucapan-ucapan itu.
Hal-hal yang tidak boleh dikerjakan ialah membunuh, mencuri dan berjinah. Ketiga hal itu tidak boleh sama sekali dilakukan, baik pada saat berolok-olok atau terdesak, maupun dalam impian sekalipun ketiga hal itu haruslah dielakkan. Sesungguhnya, seseorang itu dikenal dari perbuatan, perkataan dan pikirannya. Hal itulah yang menarik perhatian setiap orang untuk mengetahui kepribadian seseorang. Maka dari itu kebaikan itulah yang harus dibiasakan dalam perkataan, perbuatan dan pikiran.
Dikatakan amat sukar untuk berlaku baik dalam perbuatan, perkataan dan pikiran. Benar-benar demikian sukarkah adanya?

Dapat disimpulkan bahwa pikiran adalah unsur yang menentukan, setelah itu barulah perkataan dan perbuatan. Oleh karena itu maka pikiran itulah yang menjadi pokok sumbernya.
Pikiran itu merupakan asal mulanya nafsu dan asal timbulnya perbuatan yang baik maupun buruk, maka dari itu diperlukan sekali pengendalian pikiran itu dari sekarang. Adapun gerak pikiran itu berkeliaran kesana kemari dan banyak diangan-angannya, serta mempunyai banyak tujuan, sehingga menimbulkan wujud-wujud kecemasan. Jika ada orang yang dapat mengendalikan pikirannya, maka ia pasti akan menemui kebahagiaan, baik sekarang maupun di alam baka nanti. Dan lagi sifat pikiran itu ialah bahwa mata dikatakan dapat melihat segala benda, hanyalah sebenarnya karena bantuan dari pikiran. Pikiranlah yang menyebabkan mata dapat melihat, jika pikiran itu tidak turut membantu mata, walaupun mata itu tebuka lebar, namun tidak akan nampak suatu apapun olehnya. Sebab pikiran itulah yang sebenarnya mengetahui. Jadi, pikiran itulah yang merupakan sebab yang paling menentukan.

Inilah contoh lagi yang perlu diperhatikan. Ada bagian badan wanita yang tak boleh disebutkan tempatnya, yang dirahasiakan. Ada lagi luka yang dalam dan lebar. Jika direnungkan baik-baik apakah bedanya luka itu dengan anggota badan wanita yang dirahasiakan itu? Maka tergodalah ia yang menganggap kedua hal itu berbeda, hal mana yang disebabkan oleh pikirannya yang bingung. Tegasnya pikiran itulah yang merupakan sebab yang paling menentukan.

Dan lain lagi, ada yang dinamakan "mukhasawa" yaitu air liur yang menggiurkan hati pria dan wanita yang sedang berciuman bibir dengan bibir. Jika diperhatikan tidak ada bedanya dengan air liur biasa mukhasawa itu. Akan tetapi jika air liur diberikan kepada orang, ia jijik dan takut. Tetapi jika mukhasawa, senanglah ia. Tidaklah membahayakan dirinya diberi istilah demikian, dan nama itu manusialah yang membuatnya. Demikianlah bahwa pikiran itu yang menyebabkan perubahan ini.

Perhatikanlah lagi, ada satu benda yang sama, tetapi berbeda juga tanggapan dari masing-masing orang terhadapnya. Sebagai halnya buah dada sang ibu. Berbedalah tanggapan si bayi terhadap buah dada sang ibu dari tanggapan sang ayah. Sebenarnya hanya pikiranlah yang menyebabkan perbedaan itu. Pikiran juga menyebabkan sesuatu itu berbeda- beda, pikiran juga menyebabkan prilaku orang berbeda-beda. Jika ada orang berprilaku dalam hidup ini umpamanya ingin akan milik orang lain atau dengki terhadap kebahagiaannya, maka orang yang demikian mustahil akan menemui kebahagiaan baik-pun sekarang maupun di alam baka nanti. Oleh karena itu hentikanlah perbuatan itu, oleh mereka yang ingin mencapai kebahagiaan abadi. Kebijaksanaan inilah yang patut diperhatikan oleh (setiap) orang yakni rasa cinta kasih terhadap segala makhluk. Itulah yang patut diutamakan, janganlah dengki iri hati, janganlah menginginkan dan mengangan-angankan sesuatu yang tidak ada dan tidak halal.

Janganlah hal itu dipikir-pikirkan (diidam-idamkan). Maka dari itu kekanglah dan ikatlah dengan kuat panca indra dan pikiran itu, jangan diberikan menuruti jalan yang berbahaya, yang tercela, yang sulit didapat dan yang menimbulkan akibat yang tidak menyenangkan.
Adapun orang yang dengki iri hati terhadap sesama manusia, jika memandang emasnya, wajahnya, keagungannya, penjelmaannya yang baik, kebahagiaannya, kebijaksaannya dan ketenangan serta keramahannya, hal-hal itu yang menimbulkan rasa iri hati pada dirinya. Orang yang demikian itu perbuatannya, maka ia akan menerima kesengsaraan sebagai ganjarannya, amat besar kenestapaannya dan sukar akan diobati. Segala sesuatu di alam maya ini maupun di alam baka adalah milik orang yang sabar dan tenang. Sifat-sifatnya itulah yang menyebabkan ia dihormati, dipuji dan disegani oleh dunia, dan di alam sana ia akan mendapatkan sorgaloka.

Kesimpulannya, sifat-sifat sabar itulah merupakan kekayaan yang sejati, sebagai emas permata dari orang yang dapat melawan kekuatan nafsu, tiada yang melebihi kemuliaannya. Tetapi ia juga sumbernya pathya (pathadanapetah) yaitu tidak menyimpang dari jalan kebenaran yang dijadikan pedoman dalam segala apa yang ditempuh dan tak perlu memilih.

0 komentar:

Poskan Komentar