Kamis, 29 Juli 2010

Hukum Karma (Karmaphala)


Sesungguhnya kehidupan manusia di dunia ini adalah sebagai ahli waris dari karmanya. Artinya, hasil baik atau buruknya perbuatan pasti akan diterima, pada hakekatnya kita terikat oleh baik buruknya perbuatan kita. Pendeknya terdahululah kehidupan di dunia ini. Tegasnya ialah bahwa kita semua dikuasai oleh perbuatan kita yang terdahulu.

Purwakarma atau perbuatan yang lalu itu mau tak mau pasti akan dipetik setiap pahalanya oleh yang membuat atau melakukan karma itu. Dan karmaphala itu tidak bingung dalam menentukan dimana ia harus menuju dan tinggal, yaitu pada pembuatnya dahulu. Seperti halnya anak sapi, tidak akan bingung ia dalam mencari induknya untuk menyusu walaupun ratusan sapi yang dihadapinya yang semuanya sedang menyusui anak-anaknya. Walaupun bagaimana bercampur aduknya seaklian induk-induk sapi itu, namun tanpa ragu-ragu anak-anaknya akan mengenali juga induknya sendiri.

Dan lagi pahala dari Purwakarma itu tahu pasti akan waktu tibanya. Pahala dari Purwakarma itu menguasai dirinya sendiri, tidak dapat dielakkan, tidak dapat dijauhi, dan pula sia-sia jika didesak-desak, seperti sifatnya buah dari suatu bunga, ia seolah-olah sadar akan saat-saatnya, sehingga jika telah tiba masanya membuahlah ia dengan sendirinya.

Ketentuannya adalah : Kalau pada anak-anak atau pada waktu sedang jejaka atau pada waktu tuanya seseoarang itu berbuat baik atau buruk pada penjelmaannya yang lalu, maka pada waktu umur anak-anak, remaja, dan umur tua pulalah dirasakannya hasil perbuatannya itu. Singkatnya pada umur berapa seseorang melakukan perbuatan baik ataupun buruk dalam hidupnya dimasa lalu pada tahap-tahap kehidupan sekian pulalah sekarang ia menghasilkan pahala dari purwakarmanya. Jika ad orang yang sangat rajin, bijaksana dan pandai, orang yang gigih berusaha mencari kebahagiaan, berwatak perwira, serta menguasai nafsu, tampan serta tidak ada cacat dirinya, namun walaupun demikian keadaannya, jika seandainya dalam hidupnya sekarang ini ia diperbudak oleh orang yang lebih rendah derajatnya maka itu adalah disebabkan oleh buah purwakarma (perbuatan terdahulu yang dipetik hasilnya sekarang).

Sungguh amat berbeda-beda nampaknya pahala dari purwakarma itu. Perhatikanlah bahwa dalam hidup ini ada orang yang memikul usungan dan ada orang yang bepergian dengan diusung. Semua orang (makhluk hidup) menginginkan kebahagiaan yang tak terbanding. Tetapi karena mereka hanya dapat melakukan dharma (kebenaran) sesuai dengan kemampuannya maka yang diterimanya hanyalah apa yang sudah ditentukan oleh purwakarmanya saja. Kemuliaan itu, celaan itu, kebahagiaan, kesengsaraan itu serta pasang surutnya kehidupan, semuanya itu datang dan pergi dalam kehidupan manusia di dunia ini. Perilaku kehidupan dimasa lampau dilanjutkan dengan macam pahala yang diterimanya sekarang ini.

Orang yang curang terhadap harta benda orang lain dalam hidupnya terdahulu, akan menjelma sebagai orang miskin dikemudian hari. Orang yang pada penjelmaannya terdahulu melakukan pembunuhan, ia akan mati dibunuh dipenjelmaan berikutnya. Singkatnya setiap bibit perbuatan yang terdahulunya ditanam harus diterima hasil pahalanya dikemudian hari. Dan segala apapun yang ditanam mustahillah dari padanya akan tumbuh sesuatu yang berbeda dari apa yang ditanam itu.

Demikian pulalah purwakarma itu, akan diikuti oleh pahala yang sesuai, yang pasti akan dihasilkan kemudian. Di surgaloka hanya ada kesenangan yang akan dinikmati, sedangkan di dunia fana ini suka dan duka harus dirasakan. Adapun di alam neraka hanya kesengsaraan saja yang akan diderita, sedangkan pada alam moksa, parama suka (kebahagiaan abadi) yang akan dikenyam. Begitulah kehidupan dan hukum karmanya.

0 komentar:

Poskan Komentar