Selasa, 14 September 2010

Tata Susila


Apa itu Tata Susila?

Tata susila berarti peraturan tingkah laku yang baik dan mulia yang harus menjadi pedoman hidup manusia. Tujuan tata susila ialah untuk membina perhubungan yang selaras atau perhubungan yang rukun antara seseorang (jiwatma) dengan mahluk yang hidup disekitarnya, perhubungan yang selaras antara keluarga yang membentuk masyarakat dengan masyarakat itu sendiri, antara satu bangsa dengan bangsa yang lain dan antara manusia dengan alam sekitarnya. Telah menjadi kenyataan bahwa perhubungan yang selaras atau rukun antara seseorang dengan mahluk sesamanya, antara anggota-anggota suatu masyarakat, suatu bangsa, manusia dan sebagainya menyebabkan hidup yang aman dan sentosa. Suatu keluarga masyarakat bangsa atau manusia, yang anggota-anggota hidup tidak rukun atau tidak selaras pasti akan runtuh dan ambruk. Perhubungan yang rukun (selaras) berarti kebahagiaan dan perhubungan yang kacau, atau tidak rukun berarti malapetaka.

Tata susila membina watak manusia untuk menjadi anggota keluarga, anggota masyarakat yang baik, menjadi putra bangsa dan menjadi manusia yang berpribadi mulia, serta membimbing mereka untuk mencapai pantai bahagia. Selain dari pada itu, tata susila juga menuntun seseorang untuk mempersatukan dirinya dengan mahluk sesamanya dan akhirnya menuntun mereka mencapai kesatuan jiwatmanya(rohnya) dengan paramatma (Hyang Widhi Wasa atau Brahma)

Adapun kebahagiaan yang mutlak dan abadi, hanya dapat dinikmati bilaman roh seseorang (jiwatma) dapat mencapai kesatuan dengan Hyang Widhi ; karena hanya kesatuan antara jiwatma dengan Hyang Widhi itu saja yang dapat memberi kebahagiaan yang diliputi oleh perasaan tenang dan tenteram karena murninya roh (atma) yang disebut dalam istilah Sanskrit Ananda. Di dalam Bhagawad Gita VI, 20, 21, 22 Krisna menerangkan pada Arjuna, mengenai Ananda atau kebahagiaan rohani yang kekal yang disebabkan oleh jiwatma dapat mencapai kesatuan dengan Hyang Widhi (paramatma), yang bunyinya sebagai berikut :

20. “Yatro paramate cittam niruddham yogasewaja,
Yatro caiwa atmanatmanam pasyannatmani tusyati”
Maksudnya :
Bilaman hati (seseorang) merasa berbahagia karena ditentramkan oleh latihan yoga ; bilamana ia melihat Hyang Widhi (Paramatma) dengan pengamatannya rohnya (jiwatma), maka ia akan menikmati kebahagiaan rohani.

21. “Sukham atyantikam yat tad buddhigrahyam atindriyam,
Wetti yatra na caiwa yam, sthitaccalati tattwatah”
Maksudnya :
Pada waktu ia menikmati kebahagiaan rohani yang tiada bandingnya, yang hanya dapat dicapai dengan budhi, yang lebih tinggi dari panca indera, tetap (menikmati kebahagiaan itu) tiada akan jauh berada dari Yang Mutlak.

22. “Yam labdhwa caparam labham manyate nadhikam tatah
Yasmin sthito na duhkena gurunapi wicalayate”
Maksudnya :
Setelah mendapat kebahagiaan yang ia pandang tiada terbanding itu dan tetap ada didalam kebahagiaan itu, tiada ia akan gentar, walaupun ditimpa malapetaka yang hebat.

0 komentar:

Poskan Komentar