Selasa, 03 Agustus 2010

Orang yang Berilmu dan Berbudi


“ Maka terjunlah ke dalam pergaulan”. Karena sesungguhnya sangat cepat menularnya kepandaian itu kepada orang yang sungguh-sungguh bergaul dengan orang pandai. Sebagai juga halnya dalam proses membuat minyak wangi maka bau bunga, akan meresap kepada kain, air, minyak dan tanah karena persentuhannya dengan kembang itu.
Karena itu menjadi lebih rendahlah budi kita kalau selalu bergaul dengan orang yang berbudi hina; jika bersahabat dengan orang yang berbudi sedang-sedang, akan berbudi demikianlah kita jadinya. Dan jika orang yang berbudi utama dipakai sahabat, utama pulalah jadinya budi kita.

Meski hanya sedikit saja kepandaian tetapi kalau terus bersahabat dengan orang-orang pandai, kepandaian itu akan bertambah, meluas. Sebagai halnya setetes minyak yang jatuh ke dalam air jernih, meluaslah minyak yang setetes itu di dalam air itu. Walaupun banyak keahlian tetapi jika bersahabat dengan orang yang tidak mempunyai dasar sama sekali, maka akan mengecildan terpendamlah keahlian itu, tidak keliahatan manfaatnya. Tak beda dengan bayangan gajah pada cermin kecil menjadi kecil pulalah nampaknya gajah itu.

Karena itu janganlah kita sampai tidak mempunyai ilmu pengetahuan. Siapkan diri dan kejarlah ilmu. Janganlah sampai terlibat pada perbuatan-perbuatan dosa. Karena orang yang rendah budi yang disebabkan oleh karena tanpa ilmu, ia adalah merupakan musuh dirinya sendiri.

Yang patut diusahakan ialah kalau bergaul, bergaulah dengan sang Sadhu (orang yang berbudi tinggi). Kalau menjalin hubungan kekeluargaan, jalinnlah dengan sang Sadhu. Walaupun berdebat apalagi bersahabat, hendaklah diusahakan dengan orang Sadhu, karena akibatnya tidak mungkin akan timbul kerendahan budi. Adapun tingkah laku sang Sadhu adalah tidak sombong saat dipuji, tidak kecil hati kalau dicela, tidak dipengaruhi oleh rasa marah, tidak mungkin akan berkata-kata kasar, tetap teguh iman dan suci hatinya.

Disamping itu pula sang Sadhu juga disebut orang yang selalu merendahkan diri karena banyaknya kepandaian dan pengetahuannya. Seperti halnya padi, yang merunduk karena berat buahnya.
Kalau tidak mampu mengikuti tingkah laku orang yang berjiwa besar dan hal mana adalah wajar karena memang amat banyak dan berat syarat-syaratnya sebagianpun bolehlah diikuti, disesuaikan pada kemampuan diri sendiri (asal tetap pada garis kebenaran) karena (walaupun sedikit usaha kita namun) mampu juga menolong kita dari penderitaan, menyelamatkan kita dari neraka.

Kesimpulannya, usahakan benar-benarlah memegang teguh budi laku seorang Sadhu. Adapun harta benda dan lain sebagainya itu tidaklah tepat dipegang teguh-teguh karena memang sifat harta yang tidak tetap, dating dan pergi, tidak dapat dikawal walau sangat hati-hati sekalipun. Lagipula tidak semua orang yang hidup berkekurangan dapat disebut miskin. Walau miskin harta tetapi kalau kaya budi susila luhur, kaya rayalah disebutkan orang itu. Sedangkan sebaliknya walau kaya akan harta benda tetapi dursila (rendah budi) miskinlah ia disebut orang. Keadaan yang demikian sama dengan kematian adanya.

0 komentar:

Poskan Komentar