Minggu, 17 Oktober 2010

Filsafat Hindu


Tidak hanya ahli-ahli pikir Yunani saja yang memikirkan soal-soal alam semesta. Orang Hindu pun tahu dan merasakan benar-benar bahwa dunia (alam) ini penuh rahasia serta bahwa manusia yang ada di tengah-tengah dunia ini merupakan sesuatu yang amat kecil, tetapi sebaliknya besar juga artinya. Maka ada cenderung manusia untuk menyelidiki dan memahami alam semesta dan segala isinya.

Manusia merasakan sungguh-sungguh kefanaan duniawi dan rindu dengan sepenuh hati pada yang baka. Manusia tahu juga, bahwa ia amat terikat oleh kekuasaan-kekuasaan yang menariknya ke bawah serta menghalangi terbangnya mencari kebakaan tersebut. Dari sebab itu dicarinya usaha untuk bebas dari ikatan duniawi itu. Ahli pikir memutar akalnya untuk mencari jalan bebas. Timbullah bermacam-macam filsafat di tanah Hindu, tetapi dalam bermacam-macam itu telah terasa usaha mencari kebebasan dari ikatan itu.

Jika di tanah Yunani ahli pikir mencurahkan tenaganya untuk mencapai kebenaran, ahli pikir filsafat Hindu berpikir untuk mencari jalan lepas dari ikatan duniawi untuk masuk ke dalam kebebasan yang baginya merupakan kesempurnaan. Memang orang Hindu pun mencari kebenaran, tetapi tidaklah demi kebenaran belaka, melainkan untuk bebas dari dunia. Filsafat Hindu menyelidiki alam, dicari inti sarinya, diselami hakekatnya, dicari sebab-sebab yang sedalam-dalamnya, akan tetapi filsafat tidaklah berhenti sampai disitu saja, masih mempunyai tujuan lebih lanjut: kebebasan.
Lanjut Baca >>

Senin, 11 Oktober 2010

Wejangan dan belajar Bijaksana II


Baik atau buruk nasib kita sebagai manusia jangan diperbandingkan dengan orang lain. Karena hal itu bisa membawa rasa iri dan ketidak adilan dalam diri kita. Adalah satu dosa besar kalau kita sampai mengatakan bahwa Tuhanlah yang telah berlaku tidak adil pada kita. Padahal jalan nasib seseorang sudah ditentukan sebelumnya oleh Sang Pencipta.



Semua yang datang dari orang lain tidak akan ada gunanya jika tidak dituruti. Suara hati nurani sendiri, yang datang dari lubuk terdalam hati yang tulus dan bersih adalah mata telinga bagi diri seseorang untuk melangkah dijalan yang baik dan benar. (Kiai Gde Tapa Pamungkas)



Mungkin perasaan hati terkadang menyesatkan. Namun bagaimanapun juga perasaan hati adalah satu kejujuran yang tidak pernah berkata dusta. Murni dan bersih seperti embun di pagi hari. (J.Bagus)



Keangkuhan dan kesombongan, sifat kasar dan mau menang sendiri serta selalu berprasangka buruk pada orang lain sering membawa seseorang ke dalam hidup yang menyedihkan.



Jika kau membuang satu persatu orang-orang yang selama ini dekat dan bersahabat denganmu, di hari-hari terakhirmu dalam kehidupan ini kau akan merasa kesepian. Sangat kesepian! Perasaan itu lebih perih dari sayatan pisau dilubuk hatimu, akan lebih menyesakkan dari tindihan batu gunung. (kata hati seorang yang angkuh)



Tiap masalah tidak harus dilewati dengan jalan baik, tapi akan selalu berakhir untuk kebaikkan dan kebenaran. (J.Bagus)



Tanpa imajinasi, kita seperti orang-orang malang yang membosankan. (J.Bagus)



Penting untuk menjadi netral, berusaha untuk tidak berusaha. (Yen Wen)


Lanjut Baca >>

Minggu, 03 Oktober 2010

Wejangan dan belajar Bijaksana


Hendaknya janganlah tanpa pertimbangan sama sekali. Diri sendirilah yang selalu harus diteliti. Tingkah laku diri kita sendiri sehari-harilah yang harus diawasi dengan pertimbangan: salahkah tingkah laku saya sebagai ini? Atau benarkah? Apa yang sebagai ini sama dengan tingkah laku binatang? Atau apakah sama dengan perilaku pendeta? Semua ini disebabkan oleh perilaku diri sendiri. Demikianlah cara merenungkan setiap hari. Berusahalah meneliti perilaku diri sendiri setiap hari.

Bertambahnya umur, sering kita dituntut makin dewasa, untuk belajar menjadi dewasa kita biasanya ditempa lewat pengalaman dan pembelajaran diri. Pembelajaran diri adalah salah satunya dengan belajar untuk bijaksana. Saya mencoba merangkum beberapa kata bijak yang saya ketahui , semoga bisa untuk dipikirkan dan direnungi..

Apapun keadaanmu, satu yang mesti diyakini..
memaafkan, welas asih, cinta dan kasih sayang.




Dalam diri setiap orang terdapat kekuatan untuk
menjadi sehat dan menjadi sakit, untuk menjadi
kaya dan menjadi miskin, untuk hidup bebas dan
menjadi budak.
Kita sendirilah yang menentukan itu.
Bukan sesuatu, atau seseorang.
(Richard Bach)



Makin besar kecenderungan seseorang untuk berharap dan kebutuhannya
untuk berharap serta kemampuannya untuk mengalami pembaharuan
harapan, makin besar kecenderungan bahwa orang tersebut berada
dalam beberapa pengertian dari kata
" religius ". (Andrew M. Greeley)




Dari marah timbul kebingungan..
karena kebingungan ingatan menjadi kalut.
Karena kekalutan ingatan kebijaksanaan
menjadi lenyap, karena lenyapnya
kebijaksanaan seseorang akan hancur.




Orang bebas hanya bisa diatur oleh dirinya sendiri,
dan aturan itu yang akan membuatnya jadi lebih baik
jika mereka secara sadar ingin berubah.
(J.Bagus)





Sesungguhnya, seseorang itu dikenal dari perbuatannya, perkataan
dan pikirannya. Hal itulah yang menarik perhatian setiap orang untuk
mengetahui kepribadian seseorang. Maka dari itu kebaikan itulah
yang harus dibiasakan dalam perkataan, perbuatan dan pikiran.




Setelah mendapatkan kebahagiaan yang ia pandang tiada
terbanding itu dan tetap ada di dalam kebahagiaan itu, tiada
ia akan gentar, walaupun ditimpa malapetaka yang hebat.




Makhluk lahir sendiri, sendiri juga ia akan mati. Sendiri ia menikmati perbuatan baik, sendiri pulalah ia menikmati perbuatan yang buruk itu.(Manu Smrti IV, 240)



Mudah menemui orang yang selalu mengucapkan kata-kata yang menyenangkan, namun sukar mendapat orang yang(suka) mendengarkan dan mengucapkan kata-kata atau ucapan-ucapan yang tidak menyenangkan tetapi bermanfaat. (Ramayana VI, 21)



Jika niatmu ke neraka maka engkau akan ke neraka. Jika niatmu ke surga maka engkau akan ke surga. Selama kau sendiri tidak putus asa, siapa yang bisa memupus asamu?



Cinta tidak tolol. Cinta sesuatu yang suci jika saja manusia mau berlaku jujur. (J.Bagus)




Manusia adalah makhluk yang aneh, ia mudah memaafkan sahabat biasa namun sulit memahami dan memaafkan orang yang dikasihi



Jangan hati mempengaruhi pikiran, jangan pikiran mengacaukan hati.



Hatimu adalah untuk berpikir, berkata dan berbuat. (J.Bagus)
Lanjut Baca >>

Jumat, 01 Oktober 2010

Bahagia dan Perasaan Hati


Jiwa dari Icwara adalah berada didalam semua makhluk hidup. Tetapi oleh karena didalam tubuh, Ia menjadi pusat awidya dan keakuan. Ia menimbulkan perasaan hati pada manusia, lalu Ia hidup didunia ini dan memerlukan pertumbuhan. Dalam pertumbuhannya itu, Ia mencari kebahagiannya.

Didalam hidup sehari-hari bila kita melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa atau keburu nafsu, kadang-kadang mengakibatkan kehancuran. Demikian juga jika kita marah atau putus asa akan mengakibatkan ketidakselarasan. Jadi sabar dan tahan uji, adalah dasar perasaan hati yang normal pada setiap manusia. Bila benar caranya kecerdasan itu mengemudikan perasaan, maka hal itu disebut kebajikan. Dan orang yang melakukan hal itu akan dipandang sebagai orang yang baik. Dalam hal ini ia menjadi orang yang budiman, pengasih manusia dan pencinta setiap makhluk. Perasaan hatinya berkembang, dikuasai oleh rasa cinta yang makin mendalam dan akhirnya ia mencapai jiwamukti, yaitu kebebasan rohani yang tertinggi semasih ia hidup didunia ini. Orang yang mencapai keadaan yang demikian itu disebut jiwamukta.

Di dalam Weda Brhadaranyaka Upanisad disebut bahwa Brahman adalah “wijnanam anandam Brahma”, yang maksudnya Brahman adalah kebijaksanaan dan kebahagiaan. Disamping itu di dalam kitab-kitab suci disebutkan juga bahwa Brahman itu bersifat Kebenaran-Kesadaran-Kebahagiaan. Oleh karena Brahman dan Jiwatman pada dasarnya sama, maka alam jiwatman itupun bersifat bahagia. Begitu juga Brahman mempunyai sifat yang bersih dan suci, maka oleh karena itu jiwatman pun bersifat bersih, suci dan bahagia.

Alam ini tidak dipisah-pisahkan karena kesatuan adalah kesucian, dan perasaan kesatuan itu adalah kebahagiaan. Inilah yang menjadi sebab manusia selalu mencari kepuasan akan kebahagiaan karena memang sudah menjadi sifatnyalah untuk mencapai kebahagiaan dan selalu berusaha untuk mewujudkan sifat alamnya itu. Sepanjang perjalanan, ia terus mencari kebahagiaan. Inilah yang menjadi tujuan pertama dalam hidupnya. Didalam perjalanannya untuk mencapai kebahagiaannya itu, sering-sering ia menghadapi kesusahan dan kesenangan, dimana pada akhirnya ia melihat, bahwa kesucian, kebijaksanaan dan kebahagiaan adalah tunggal dan tak dapat dipisah-pisahkan, karena ketiga sifat ini adalah alam Icwara.
Lanjut Baca >>