Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Agustus 2010

Penjelmaan (Tumimbal lahir)


Sesungguhnya prana( nafas) itu bergandengan dengan badan jasmani. Badan jasmanilah tempatnya prana, dan pranalah yang menyebabkan adanya badan jasmani. Maka kalau prana itu lenyap, badan jasmanipun lenyaplah. Singkatnya, yang dua itu lahirnya bergandengan dan lenyappun bergandengan.

Perbuatan baik dan buruk itu dilakukan karena adanya badan jasmani. Dan badan jasmanilah merupakan alat untuk mengecap pahala perbuatan baik atau buruk itu kemudian. Pokoknya ialah bahwa badan jasmani adalah tali samsara (tumimbal lahir) guna dapat mengecap suka dan duka kehidupan. Oleh karena itu usahakan agar tidak menjelma lagi di kemudian hari.

Dengan adanya kenyataan bahwa penjelmaan (tumimbal lahir) dikuasai oleh waktu dan merupakan penderitaan maka janganlah gegabah. Sucikanlah hati, bersihkan jiwa dan berusahalah kearah jalan moksa.
Dikatakan ada dua macam jalan yaitu Pitrayana dan Dewayana. Bagi mereka yang menjalankan Grehasta (hidup berkeluarga), yang dengan tekun melaksanakan pujaan-pujaan panca yadnya dll-nya, disebut pitrayanalah yang ditempuhnya. Sedangkan orang yang nistresna (tanpa ikatan nafsu), yang rela meninggalkan segala-galanya dalam hidup (jiwa pikirannya mengarah hanya pada TYME) disebut Dewayanalah jalan yang ditempuhnya.

Yang menempuh pitrayana dengan jalan yadnya (korban suci), tapa, susila (yama dan niyama brata) dan lain sebagainya, dengan disiplin kependetaan, ia akan menuju kealam surga. Akan tetapi ia akan menjelma kembali. Oleh karena itulah jalan moksalah diusahakan benar-benar, dan dicita-citakan oleh orang yang bijaksana, sebab akan tidak akan menjelma kembali tidak tua dan tidak mengenal mati.

Begitulah kedukaan yang dialami setelah merasakan alam surga, ketika sudah habisnya pahala dari perbuatan yaitu karmaphala yang menyebabkan mencapai surga. Demikian semerbaknya bau bunga kehidupan di alam surga. Tetapi jika disana melakukan hal-hal tidak menyenangkan maka kalau sudah jatuh dari surga alangkah hebatnya kenestapaan yang akan diderita. Demikianlah keperihan rasa duka yang diderita dari sejak berakhirnya kenikmatan hidup di surgaloka sampai pada saatnya mencapai Brahmaloka (alam Tuhan).

Itulah kedukaan dalam penjelmaan kembali dan kesedihan yang dirasakan oleh ia yang pernah mengecap kenikmatan surga itu. Sungguh sangat menakutkan. Oleh karena itulah kami tidak ingin menikmati surga (karena hakikatnya kenikmatan itu tidak kekal adanya).

Jika sudah demikian besar kedukaan yang di derita setelah mengalami alam surga, betapakah ngerinya rasa penderitaan di alam neraka. Tentu tidak terperikan keadaan duka nestapa itu. Beraneka ragam siksaan dari Yamabala disitu. Kalau kemudian dari alam demikian terjadi penjelmaan kembali maka penjelmaan itu adalah dalam bentuk mahluk rendah, binatang buas, binatang ternak, binatang melata dan lain sebagainya. Sungguh amat sengsara adanya, sebab ia menjadi mangsa mahluk sesamanya . demikian keperihan hidup dalam kesengsaraan. Sedangkan setelah berada dalam alam pitra (pitraloka) akan menderita lapar dan dahaga, suatu penderitaan yang luar biasa. Kalau menjelma di alam manusia suka dan duka itu datang silih berganti adanya. Karena penjelmaan manusia itu membawa kesusahan, pertama-tama sekali dipagi hari akan menderita karena desakan berhajad besar dan kecil, disiang hari pada waktu sang surya sedang tinggi menderita lapar dan dahaga, setelah makan merasa kenyang, menderita karena desakan nafsu syahwat. Dimalam hari pada waktu matahari telah terbenam, menderita pula karena desakan mata yang mengantuk.

Demikianlah keadaan dari tumimbal lahir itu. Karenanya tingkatkanlah kehidupan dirimu oleh dirimu sendiri. Jangan sekali-kali berbuat yang akan menyengsarakan dirimu, karena hanya dirimu sendirilah teman dirimu, dan dirimu sendiri pula yang menjadi musuh dirimu. Singkatnya kalo kalau dirimu kasih sayang pada dirimu sendiri berarti sudah berkemas-kemas kealam moksa. Kasih sayang yang demikian itu adalah sahabat bagi dirimu. Jika dirimu tidak kasih sayang terhadap dirimu sendiri sehingga tidak memikirkan usaha kebesaran jiwa maka hal itu merupakan musuh dirimu sendiri.

Pikiranlah yang menyebabkan adanya tumimbal lahir (penjelmaan). Kalau diliputi hawa nafsu, ke alam papalah dibawanya. Tetapi kalau pikiran itu suci, tidak ragu-ragu melenyapkan nafsu serta segala macam dosa, alam moksa (kebahagiaan abadi) lah akhirnya dicapai dengan menyeberangi lautan samsara, samudra tumimbal lahir.
Lanjut Baca >>

Kamis, 05 Agustus 2010

Emosi pada saat Rainan (hari baik)


Mengapa tiap datangnya rainan (hari baik) baik pas rainan ato sehari sebelum rainan orang-orang selalu mengalami peningkatan emosi atau kata orang dalam bahasa gaulnya sensi? Hehehehe…

Rerahinan ato rainan (hari baik) yang umum yang telah diketahui dengan perhitungan yang simple seperti purnama, tilem (bulan mati) dan kajeng kliwon selalu membawa pengaruh yang besar bagi alam ini. Purnama dan tilem yang hitungannya 30 hari dan kajeng kliwon yang hitungannya tiap 15 hari ini merupakan hari baik yang umum dipergunakan oleh masyarakat Bali untuk melakukan pelukatan atau mandi ruwat, untuk melakukan persembahyangan dan pedoman beberapa pura di bali dalam melaksanakan piodalan (dalam bahasa gaulnya ulang tahun pura). Namun perlu juga diketahui bahwa hari baik itu juga ada efek buruknya kalau kita sebagai manusia tidak memahaminya.

Hari-hari seperti purnama biasanya air laut akan pasang, tilem akan dirasakan malam itu sunyi senyap dan kajeng kliwon hadir dengan aura magisnya dan sedikit membuat bulu roma kita terpancing untuk berdiri. Sehari sebelum itu juga dirasakan hal yang sama namun lebih bersifat ke emosi dan kendali diri. Pun begitu di setiap hari H pas rainan itu sendiri. Contoh yang paling sering terjadi adalah pada saat akan melakukan persembahyangan, mulai dari sarana dan prasarananya serta kesiapannya. Orang-orang yang akan melakukan persembahyangan kadang digoda dengan rasa kantuk, rasa malas dan sebagainya yang menyebabkan peningkatan emosi. Mereka jadi suka telat, terjadi percekcokan kecil hingga mengakibatkan batalnya persembahyangan itu.

Semua itu terjadi karena efek perubahan aura yang terjadi di alam ini yang disebabkan karena peredaran bulan terhadap bumi dan matahari. Segala macam aura, baik dan buruk akan bangkit karena pengaruh tersebut. Dalam konsep yang berbeda bumi atau alam ini disama kan terhadap tubuh kita. Apa yang ada dibumi atau alam ini, ditubuh kita juga memilikinya. Alam terjadi perubahan otomatis tubuh kita juga bereaksi.

Bila alam mempunyai peredam berbagai aura yang tidak baik, tubuh kita juga mempunyai peredam tersebut, itulah yang dinamakan hati. Dan ini yang seharusnya dipahami oleh tiap orang. Jangan sampai aura alam yang tidak baik kita serap hingga membuat tubuh kita mengalami peningkatan aura yang negatif, kalau hal itu sampai terjadi maka emosilah kita, badan pun akan terasa tidak nyaman, pikiran pun kacau.

Agar bisa mempergunakan hati kita sebagai peredam aura tersebut diharapkan kita selalu melakukan pengendalian diri agar tidak terpengaruh terhadap emosi yang kita miliki. Ada ujar-ujar yang tepat untuk menggambarkan pengendalian ini “Jangan hati mempengaruhi pikiran, Jangan pikiran mengacaukan hati”.

Dengan demikian apapun yang terjadi di alam ini terutama pada saat hari-hari baik, kita benar-benar bisa mengambil sisi positif dari hari baik tersebut. Apa yang kita harapkan bersama akan menjadi suatu kenyataan untuk menjadikan kita lebih baik.

Astungkara.
Lanjut Baca >>

Rabu, 04 Agustus 2010

Kekuasaan Maut


Janganlah berfoya-foya membuang-buang waktu, apa yang rencananya dikerjakan besok, kerjakanlah sekarang juga. Apa yang rencananya dikerjakan sore nanti, pagi inilah dikerjakan, karena sesungguhnya sang maut tidak menunggu, tidak peduli apa yang sudah ataukah belum selesai suatu pekerjaan itu. Kalau ada orang yang sudah akrab dengan sang maut atau bias luput dari ketuaan dan kematian, hanya dialah yang berhak memastikan apa yang terjadi sekarang dan kelak kemudian hari.

Memang benar sang waktu tidak dapat dikirakan batas akhirnya, beratus-ratus tahun dan tidak terbatas, sedangkan kesempatan untuk berbuat dalam hidup ini sangat terbataslah adanya, sangat tergesa-gesa jalannya. Kehidupan manusia ini hanya sekejap adanya. Oleh karena itu mengapa terlena?. Sementara masih hidup, pergunakan kehidupan ini, abadikan demi untuk menegakkan kebenaran (dharma).

Jangka kehidupan manusia itu sangatlah pendek. Dan kehidupan yang sudah pendek ini dibagi lagi oleh malam yaitu saatnya manusia tidur karena desakan mata yang mengantuk. Hanya separo yang tinggal. Dan sisanya yang separo ini diambil lagi oleh waktu sakit, waktu sedih, waktu tua dan halangan-halangan lain sehingga benar-benar sangatlah singkatnya masa hidup manusia itu yang tinggal.

Sayangnya tidak ada yang menyadari bahwa sesungguhnya kehidupan mahluk manusia itu tenggelam di samudra waktu yang maha dalam kesaktian , ketuaan, dan kenestapaan sebagai buayanya.

Tiada obat, tiada mantra, tiada upacara, tidak juga pujaan yang dapat menolong manusia dari cengkraman maut, menolak datangnya kematian, walaupun bolak balik mengucapkan mantra dengan bersuara ataupun berulang-ulang memanjatkan doa secara tidak bersuara yang disebut dengan istilah JAPA.

Kalau seseorang melihat orang yang tidak pernah mengalami kesukaran, sentosa, dan teguh imannya, tidak diganggu oleh kebingungan dan jika melihat orang menderita umur tua, atau melihat orang yang kesakitan atau melihat orang mati tetapi ia tidak peduli pada semuanya itu seolah-olah ia tidak akan mengalami hal yang demikian, maka orang yang bertingkah laku demikian, tidaklah beda dengan suatu benda yang tidak mempunyai perasaan. Walaupun telah dikuasainya seluruh samudra, seluruh alam dunia oleh seseorang yang disebabkan oleh kehebatan kesaktiannya, namun ia tidak akan luput dari kesakitan masa tua dan kematian.

Bahwa yang bernama sang maut itu, berwujud sebagai “waktu” dengan ciri-ciri perwujudannya ialah kecepatan, kegaiban, perubahan-perubahan adanya siang dan malam dan sebagainya yang merupakan 6 (enam) ciri dari perwujudannya. Adapun selaku wajah dari maut itu ialah kesakitan dan ketuaan. Demikianlah yang bisa nampak oleh mata bahwa maut itu menyusup meliputi dan memenuhi seluruh alam dan segala yang hidup menjadi mangsanya.

Mumpung umur masih muda maka giatlah melaksanakan kebajikan (dharma) karena prilaku seorang yang sudah tua itu sungguh-sungguh menyedihkan. Lihatlah umpamanya betapa sengsaranya seorang tua yang begini keadaannya, yaitu orang tua itu tidak dapat melepaskan dirinya dari tarikan wisaya (indra). Sangat keras rasa keinginannya tetapi ia tidak mampu menikmati yang diinginkannya itu karena panca indranya sudah surut lemah. Halnya itu tidak bedanya seekor srigala tua yang tidak bergigi lagi, tetapi ingin makan tulang. Terpaksa hanya dijilatnya saja tulang itu untuk memenuhi keinginannya merasakan keenakannya walau hanya sedikit saja. Demikianlah perasaan orang tua yang bernafsu dengan srigala tua yang tanpa gigi. Kasian!
Dan semuanya itu disebabkan oleh karena ketidakmampuannya ia memutuskan ikatan nafsunya.

Bisa juga kita terlena akan ajal yang mendatang walau sesungguhnya mahluk hidup ini tidak ada bedanya dengan orang hukuman yang digiring ke tempat dijalankannya hukuman itu, setiap langkahnya mendekati tempat itu adalah pengurangan setapak lagi dari jangka hidupnya. Demikian pulalah mahluk hidup ini. Setiap malam yang terlewatkan olehnya berarti pengurangan dari masa hidupnya yang membawanya semakin dekat dengan kematiannya.
Lanjut Baca >>