Jumat, 20 April 2012

Falsafah Makrokosmos dan Mikrokosmos

Bagaimanakah hubungan alam dengan tujuan hidup manusia?

    Agama Hindu mengajarkan agar manusia hidup menemani alam dan bukan menundukkan alam, karena menginginkan dua jenis kebahagiaan yaitu kebahagiaan lahiriah yang disebut jagadhita dan kebahagiaan rohani yang disebut jiwamoktah yang akhirnya mencapai moksa. Tujuan itu nyata disebutkan di dalam Weda dengan formula yang berbunyi “moksartham jagadhitaya ca iti dharmah” 


                                           

    Agama Hindu memandang alam sebagai tempat manusia menempuh kehidupan. Alam sebagai sumber materi yang diperlukan untuk hidup, alam memberikan rangsangan rasa etis artistik, alam memberikan inspirasi dan sesungguhnya jasmani manusia yang disebut “stula sarira” berasal dari unsur-unsur pancamahabhutayang merupakan unsur sama dengan unsur yang membentuk alam sebagai ciptaan Hyang Widhi.

Di dalam theology dikemukakan ajaran mengenai kosmologi yang bertujuan untuk menjelaskan alam semesta ini. Masalah yang menjadi obyek penelitian dalam kosmologi meliputi berbagai aspek gejala-gejala alam semesta termasuk pula tetang ajaran mengenai kemanfaatannya, sifat-sifat hakekatnya, sifat-sifat alamiah yang serba terbatas, sifat-sifat relative, asal mula timbulnya kejahatan, pengertian dosa dan sorga, disamping aspek lainnyayang membahas hubungan antara ruang dan waktu sebagai hakekat alam phenomena. Pada umumnya ajaran psiko-kosmos adalah ajaran yang dijelaskan dengan simbol-simbol alam kejiwaan dan alam dunia fana ini serta hubungannya dengan alam gaib dalam bentuk hubungan antara mikrokosmos dengan makrokosmos.

Dalam hubungan ini jasmani manusia digambarkan sebagai mikrokosmos yang dibedakan dengan alam semesta ini atau jagat raya sebagai makrokosmos. Bentuk dan sifat hubungan mikrokosmos dan makrokosmos digambarkan sebagai bentuk yang sama-tidak sama sebagai gambaran yang dilukiskan dalam adagium “neti-neti-neti” (pudja, 1978,32). Kosmos di dalam istilah Hindu disebut “bhuwana” artinya dunia, tidaklah real. Beberapa sistem filsafat memandang dunia ini semu. Walaupun semu, namun tidaklah patut dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat dilukiskan, karena segala sesuatu dapat dilukiskan.

    Makrokosmos yang juga disebut bhuwana-agung dan mikrokosmos atau bhuwana-alit adalah dua kosmos yang berhubungan antara yang satu dengan yang lain. Perhubungan kedua kosmos itu perlu harmonis untuk tercapainya ketentraman hidup lahir batin. Mistik atau ilmu kebatinan di Bali menghubungkan bhuwana agung dengan bhuwana alit dengan istilah “pasuk wetu”, adalah bertujuan untuk mencapai keselarasan atau keharmonisan antara kedua kosmos.


    Jasmani atau badan wadag manusia disebut sthula carira adalah bhuwana alit yang artinya alam kecil. Disebut dunia kecil karena jasmani manusia adalah bagian dari bhuwana agung atau jagat raya yaitu alam besar. Manusia terdiri dari dua unsur purusa (atma) dan unsur prakerti atau raga. Demikian pula makrokosmos terdiri dari dua unsur yaitu unsur purusanya adalah Paramatma (Hyang Widhi) dan unsur prakertinya adalah bumi ini.
Keadaan pancamahabhuta di bhuwana alit adalah sebagai berikut :
1. Tulang, kulit, daging, kuku dan bagian keras yang lainnya adalah unsur pratiwi (zat padat). 
2. Darah, lemak, enzim-enzim dan cairan lainnya adalah unsur apah (zat cair).
3. Panas badan, cahaya dan warna badan adalah unsur teja (panas).
4. Nafas dan hawa serta bau badan adalah unsur wayu (udara).
5. Rambut dan bulu badan adalah unsur akasa (ether). 

Keadaan pancamahabhuta di bhuwana alit adalah sesuai dengan keadaan pancamahabhuta di bhuwana agung yaitu :
1. Zat padat adalah unsur pratiwi
2. Zat cair adalah unsur apah.
3. Panas, api dan sinar adalah unsur teja.
4. Udara atau hawa adalah unsur wayu/bayu.
5. Ether adalah unsur akasa. 

Di bhuwana agung ada yang disebut “sapta nadi” yaitu tujuh sungai yang dianggap suci di India. Ketujuh sungai itu adalah : sungai Gangga, sungai Sindu, sungai Saraswati, sungai Wipaca, sungai Kocika, sungai Yamuna dan sungai Serayu seperti yang disebutkan di dalam Wedhasanggraha di Bali, sebagai tempat untuk menyucikan diri dan melebur serta membuang kecemaran (leteh).

Sapta nadi yang juga disebut “sapta segara” di bhuwana alit adalah :
segara susu (darah), segara asin (keringat), segara santen (cairan otak), segara madu (air ludah), segara empehan (air susu), segara banyu (air seni) dan segara amerta (air mani), sebagai tempat melebur atau membuang kecemaran pada jasad manusia.
Dalam bhuwana agung ada lima gunung yang dianggap suci disebut “panca giri” baik di India maupun di Bali. Di bhuwana alit ada juga yang disebut panca giri. Adapun perhubungannya sebagai berikut :
1. Pancagiri di India yaitu : gunung Maliawan arahnya di timur, gunung Gandhamedhana arahnya di selatan, gunung Kailaca arahnya di barat, gunung Udaya arahnya di utara, gunung Mahameru arahnya di tengah.

2. Pancagiri di Bali yaitu : gunung Lempuyang arahnya di timur, gunung Andhakasa arahnya di selatan, gunung Watukaru arahnya di barat, gunung Bratan arahnya utara, gunung Agung arahnya tengah.

3. Pancagiri di bhuwana alit : jantung arahnya di timur, hati arahnya di selatan, limpa arahnya di barat, empedu arahnya di utara, kumpulan hati (paunduhan hati) arahnya di tengah.

Matahari dan Bulan atau “surya-candra” di bhuwana agung, bila di bhuwana alit mata kanan disebut surya (matahari) dan mata kiri disebut candra (bulan). Di dalam upacara agama Hindu, matahari disimbolkan dengan “dipa” yaitu api yang menyala (padamaran) dan bulan disimbolkan “dupa” yaitu api yang tidak menyala (pasepan). Baik dipa maupun dupa, keduanya merupakan peralatan memuja Hyang Widhi bagi pendeta Hindu di Bali. Falsafah Hindu membagi bhuwana agung dan bhuwana alit masing-masing menjadi 7 lapisan atau tingkatan yang disebut “sapta patala”. Sapta patala di bhuwana agung adalah : suatala, atala, witala, satala-tala, santala, tala-tala dan tala.

Adapun sapta patala di bhuwana alit adalah : paha (suatala), lutut (atala), betis (witala), pergelangan kaki (satala-tala), tumit (santala), tapak kaki (tala-tala) dan pusat tapak kaki (tala). Di dalam agama Hindu, dunia ini dibagi menjadi 9 penjuru mata angin dan masing-masing penjuru ada huruf sucinya yang disebut “wijaksara” dan ada Dewanya yang menjaga masing-masing penjuru dunia. Bhuwana alit juga dibagi 9 penjuru dengan wijaksara serta dewanya yang sama dengan di bhuwana agung. Adapun hubungan perhubungannya sebagai berikut :
1. Penjuru timur, Dewanya Iswara, wijaksara SA, tempatnya di bhuwana alit adalah jantung.
2. Penjuru tenggara, Dewanya Maheswara, wijaksara NA, tempatnya di bhuwana alit adalah paru-     paru. 
3. Penjuru selatan, Dewanya Brahma, wijaksara BA, tempatnya dibhuwana alit adalah hati.
4. Penjuru barat-daya, Dewanya Rudra, wijaksara MA, tempatnya di bhuwana alit adalah limpa.
5. Penjuru barat, Dewanya Mahadewa, wijaksara TA, tempatnya di bhuwana alit adalah   jajaringan. 
6. Penjuru barat-laut, Dewanya Sangkara, wijaksara CI, tempatnya di bhuwana alit adalah ungsilan.
7. Penjuru utara, Dewanya Wianu, wijaksara A, tempatnya di bhuwana alit adalah empedu.
8. Penjuru timur-laut, Dewanya Sambhu, wijaksara WA, tempatnya di bhuwana alit adalah ineban.
9. Penjuru tengah, Dewanya Ciwa, wijaksara I (dibawah) dan YA (diatas), tempatnya di bhuwana alit adalah otak. 
Sepuluh huruf suci itu terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok “Pancabrahma” terdiri dari huruf suci SA-BA-TA-A-I dan kelompok “pancakasara” terdiri dari huruf suci NA-MA-CI-WA-YA. Keseluruhannya disebut wijaksara Dasaksara dan ini dinamai pula aksara “urip bhuwana”.

Dikalangan ilmuwan beranggapan bahwa dunia ini terdiri dari 65% zat cair. Demikian pula jasmani manusia yang merupakan bhuwana alit dikatakan terdiri dari 65% zat cair juga.
Ada lima jenis zat cair penting di dalam jasmani manusia yaitu :
1. Darah-putih adalah zat-cair berwarna putih.
2. Darah-merah adalah zat-cair berwarna merah.
3. Enzim-enzim adalah zat-cair berwarna kuning.
4. Empedu adalah zat-cair berwarna hitam.
5. Air mani adalah zat-cair berwarna bening.


Kelima zat-cair ini merupakan factor penting bagi kehidupan jasmani manusia yang disebut “pancamertha” bagi badan wadag atau sthula sarira. Dibhuwana agung juga terdaapat pancamertha, pancamertha dibhuwana agung terdiri dari 5 jenis zat-cair yang ada di bumi yaitu :
1. Empedu adalah zat-cair berasal dari sarira (jazad).
2. Berem adalah zat-cair berasal dari palawija (buah-buahan), berwarna merah.
3. Arak adalah zat-cair berasal dari uap (kukus) berwarna kuning.
4. Madu adalah zat-cair berasal dari sari bunga-bungaan, berwarna hitam.
5. Air adalah zat-cair berasal dari bumi atau tanah berwarna bening. 

Pancamertha di bumi atau di bhuwana agung itulah yang disebut “pancakatirtha” yang real di bumi dan ini berhubungan dengan pancamertha di bhuwana alit guna menjaga keseimbangan kondisi jasmani dan rohani.


    Di depan telah dikemukakan, bahwa unsur-unsur pancamahabhuta di bhuwana alit berasal dari pancamahabhuta di bhuwana agung. Ini mengandung arti bahwa jasmani manusia berasal dari alam atau bumi. Ketika sang ibu mulai mangandung, maka ia merindukan sesuatu untuk dimakan misalnya : asam-asaman, buah-buahan, nasi dan kadang-kadang ada wanita hamil yang ingin makan “ampo” (tanah liat kering). Kerinduan akan makan sesuatu itu disebut “ngidam”. Di Bali ada semboyan bahwa manusia lahir atau datang mengikuti embun “nuwut damuh” dan manusia berpulang atau mati mengikuti asap (nuwut kukus).

    Semboyan ini memberikan petunjuk bahwa jasmani manusia berasal dari unsur-unsur pancamahabhuta di bhuwana agung. Ketika manusia mati, maka jasadnya kembali lagi ke bumi dengan jalan mengubur atau membakarnya. Bilamana pengembalian jasad manusia ke bhuwana agung dengan cara mengubur, maka proses peleburannya lebih lambat daripada mengembalikan dengan cara membakar. Oleh karenanya system pembakaran jenasah dalam agama Hindu bertujuan untuk mempercepat proses pengembalian unsur-unsur pancamahabhuta di bhuwana alit dan pancamahabhuta di bhuwana agung. Upacara “ngaben” di Bali harus diartikan memisahkan unsur purusha (atma) dengan unsur prakerti (jasmani) manusia dengan mempercepat proses pengembalian unsur-unsur pancamahabhuta di bhuwana alit ke pancamahabhuta di bhuwana agung.

    Unsur purusha yang berasal dari Hyang Widhi kembali kepada Hyang Widhi atau Brahma-loka. Inilah yang disebut “mulih ing sangkan paran” di dalam falsafah makrokosmos dan mikrokosmos agama Hindu. Mengenai motto “mulih ing sangkan paran” ini disebutkan di dalam Bhagawad-GitaVII, 6 dan IX, 10 sebagai berikut.

VII, 6 : “etadyonini bhutani Sarvani’ty upadharaya Aham krtsnasya jagatah Prabhavah pralayas tatha”  

artinya : ketahuilah bahwa semua makhluk ini asal kelahirannya di dalam alamKu ini. Aku adalah asal mula dari dunia ini dan juga kehancurannya (pralaya).


IX, 10 : “maya dhyaksena prakrtih Suyate sacaracaram Hetuna nena kaunteya Jagad viparivartate”

artinya : di bawah tuntunanKu, prakerti melahirkan semua yang ada, bergerak dan tidak bergerak, dan dengan jalan ini, o putera Kunti maka dunia berputar.  


    Hyang widhi adalah sumber dari segala yang ada, alam semesta ada di dalam Hyang Widhi sendiri. Fungsi Hyang Widhi dalam wujud Trimurti yaitu Brahma, Wisnu, Siwa ialah pencipta, pemelihara, dan mengembalikan lagi ke tempat asalnya. Inilah yang disebut alam Hyang Widhi. Perhubungan makrokosmos dan mikrokosmos perlu diharmoniskan, karena hubungan yang tidak harmonis akan menimbulkan ekses-ekses negative terutama terasa di bhuwana-alit antara lain berupa sakit, gusar, perasaan tidak enak dan lain sebagainya. Maka dari itu agama Hindu mengajarkan agar manusia menjaga keharmonisan kedua kosmos demi kesejahteraan dan kebahagiaan lahir dan bathin. Dengan kata lain keseimbangan ekosistem perlu diciptakan dan dijaga. Ini mengandung konsekuensi, bahwa manusia harus mengharmoniskan diri dengan lingkungan hidup yang telah nyata-nyata memberikan rasa aman, tenteram dan bahagia dalam kehidupan ini.

     Demikianlah falsafah makrokosmos dan mikrokosmos dalam agama Hindu mengandung arti harmonis hubungan manusia dengan lingkungannya yang memberikan pengaruh positif secara timbal-balik.


(sumber : seminar kesatuan tafsir terhadap aspek-aspek agama Hindu)
Lanjut Baca >>

Rabu, 10 Agustus 2011

Menghilangkan Cemas dan Menikmati Hidup


Manusia merupakan ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Dengan berbagai kemampuan yang dimiliki yang bersumber dari pikiran dan iman. Dalam perjalanan hidupnya, manusia menjalani kehidupan ini dari tahun ke tahun hingga berabad-abad kemudian dengan mengalami evolusi pengetahuan.

Semakin hari perkembangan ilmu pengetahuan menggiring manusia menjalani suatu kehidupan yang kompleks dan beragam.
Tanpa disadari akibat dari perkembangan jaman tersebut menimbulkan beberapa rasa yang sangat mengganggu, antara lain adalah rasa cemas.
Kecemasan merupakan suatu respon dari pengalaman yang dirasa tidak menyenangkan dan di ikuti perasaan gelisah, khawatir, dan takut. Kecemasan merupakan aspek subjektif dari emosi seseorang karena melibatkan faktor perasaan yang tidak menyenangkan. (Lazarus,1969)

Cemas berasal dari bahasa Anglo-Saxon kuno yang berarti Choke atau tersedak. Efek dari cemas ini antara lain: perut menjadi mulas, keringat dingin, migraine, pingsan dan lain-lain.
Jadi tanpa kita sadari kita juga mempunyai bakat kemampuan untuk merusak diri kita sendiri yang bersumber pada perasaan.

Mengatasi Kecemasan

Ketakutan dan cemas adalah bagian dari pikiran yang mempunyai porsi lebih besar dari keberanian, agar bisa terbebas dari rasa takut dan cemas adalah pembentukan iman yang kuat.

Iman yang kuat akan membentuk mental yang kokoh sehingga iman mampu mengatasi ketakutan. Membentuk iman yang kuat berdasarkan pada keyakinan diri sendiri dan keyakinan kita pada Tuhan adalah kuncinya. Bentuklah kebiasaan yang menegaskan diri anda memiliki keimanan yang kuat, bentuklah pikiran anda bahwa anda bisa melawan rasa takut dan cemas yang tidak normal itu dari pikiran anda.
Hal lainnya adalah membentuk keberanian anda untuk bermain dengan kecemasan dan ketakutan, kecemasan tidak akan pernah menang bila anda tidak menganggapnya lebih kuat daripada kondisi nyatanya.

Kecemasan adalah hal yang akan membuat kita selalu berada di bawah dan tertekan, bila kita mau menjadi pribadi yang ingin menikmati hidup maka belajarlah untuk mengatasi rasa cemas itu sendiri. Sehingga dapat menjalani keseharian dengan senyuman.

“kecemasan bukan hal yang menakutkan, dan tidak
ada yang perlu dicemaskan lebih dari sewajarnya”.
(J.Bagus)

Lanjut Baca >>

Senin, 01 Agustus 2011

Membangun dan Meningkatkan Rasa Percaya Diri



Pengetahuan yang kurang serta cepatnya arus globalisasi yang berkembang pesat pada saat ini mau tidak mau membuat sebagian dari diri kita merasa tersisihkan. Ini diperberat dengan kurangnya minat untuk menjadi lebih maju, lebih meningkatkan diri kearah yang positif. Sehingga pada saat tertimpa masalah, pada saat terpuruk seringkali melakukan perbuatan yang merugikan yang kerap kali berujung pada kematian.

Pemahaman dan pengertian kita pada kemampuan yang kita memiliki senantiasa dianggap remeh dan kadang di abaikan. Meniru dan menduplikasi akhirnya menjadi jalan keluar pencarian mereka. Padahal bila dicari dan dipahami lebih mendalam, kita sebagai insan mahkluk Tuhan yang paling sempurna dapat mengembangkan segala potensi dan kreatifitas dalam diri kita yang dapat bermanfaat untuk sesame dan alam sekitarnya.

Manusia sebagai insan Tuhan memiliki kekuatan, kemampuan bergerak serta pikiran (bayu, sabda, idep). Sehingga kalau digali lebih mendalam lagi adalah manusia sebagai Diri dan hatinya sebagai Jati Diri. Bilaman manusia tidak mempunyai hati serta perasaan, pada saat itulah manusia kehilangan Jati Dirinya sehingga memudahkan manusia berbuat salah dan keluar dari tatanan kehidupan yang sebenarnya. Menggali potensi pada diri sendiri dilandaskan pada Kejujuran, Keikhlasan, Kepasrahan. Bahwasanya apapun yang ada di alam ini adalah diawali dengan kelahiran dan diakhiri dengan kematian. Diantara 2 hal tersebut yang ada adalah Belajar, belajar untuk mengarungi kehidupan dengan segala macam prosesnya. Pada belajar hidup inilah rasa percaya diri sangat berperanan penting untuk mencapai kehidupan yang benar.

Membangun dan meningkatkan diri selalu diawali Kejujuran, kejujuran diri untuk belajar sesuatu hal yang kita tidak mengerti, kejujuran terhadap kemampuan kita belajar dan menyerap pengetahuan serta kejujuran terhadap berbagai rasa yang kita alami.
Kemudian Keikhlasan, ikhlas menerima dari segala sesuatu yang telah kita lakukan serta ikhlas menanti berdasarkan waktu yang telah ditentukan.
Kemudian dari 2 hal yang telah disebutkan itu maka kita menuju Kepasrahan, pasrah menerima apapun hasil dari setiap apa yang telah kita lakukan dan kita perbuat. Baik atau kurang baik kita terima sebagai suatu pembelajaran hidup.

Insan yang percaya diri adalah insan yang percaya terhadap Jati Diri dan sudah tentu percaya juga terhadap Sang Pencipta sebagai penguasa alam dan penguasa kehidupan. Rasa percaya diri adalah podasi manusia untuk menjalani hidup menuju kebenaran. Salah satu rasa yang mencerminkan sifat Yang Maha Kuasa yang terdapat pada diri kita sebagai manusia.

Sebaik-baiknya hati adalah yang siap menerima kenyataan
Sebaik-baiknya perbuatan adalah yang dilakukan dengan
segala keikhlasan. (J.Bagus)
Lanjut Baca >>

Kamis, 02 Juni 2011

Penghuni Neraka dan Persimpangannya



Sepertinya kita semua perlu menyisihkan waktu untuk merenung, menenangkan diri diantara hingar bingar berita atau informasi yang singgah diruang-ruang rumah kita. Bayangkan akibat kemajuan ilmu dan teknologi informasi, semua rentang dunia seperti tanpa jarak.

Apa yang dibayangkan dan dikhawatirkan orang pada awal abad millenium tiga ini menjadi kenyataan. Teknologi informasi computer, teknologi internet, tidak saja akan meniadakan sekat ruang jagat raya, namun lebih dekat dengan kita, juga mempengaruhi prilaku keseharian umat manusia.

Penghukuman
Berikut ini adalah cerita tentang pelaksanaan sanksi bagi para atma sesuai perbuatan yang dilakukan saat menghuni raga manusia di mayapada.

Pertama-tama terlihat Bhuta Tog-tog Sil, babutan (makhluk angkara) dengan wujud mata yang besar menghakimi atma tattwa (atma yang menyalahgunakan pengetahuan tattwa) dan atma curiga (atma yang penuh curiga, mencurigai yang tidak patut dicurigai). Disebelahnya, Bhuta Naya (raksasa yang kadang tampak kadang tidak nampak) bersama-sama Bhuta Celeng, babutan berbentuk babi menghukum atma yang sewaktu di mayapada berprilaku buruk, jahat. Tak jauh dari itu, tampak Bhuta Abang, babutan yang berwujud raksasa berkulit merah menyala sedang menggotong atma lengit, atma yang semasa hidupnya malas bekerja, akan dicemplungkan ke bejana besar dengan air mendidih yang disebut kawah gomuka.

Disebelah kanannya dari bejana itu, tampak Sang Bhuta Ireng, babutan berwujud raksasa berkulit hitam bersama Sang Bhuta Prungut, babutan yang bertubuh besar, berkulit dan berwajah angker menggotong atma corah, atma yang semasa hidupnya senantiasa berprilaku buruk untuk dicemplungkan ke kawah gomuka. Sementara itu, Bhuta Ode-ode, babutan yang bertubuh gemuk dengan kepala plontos meniup api di bawah jambangan kawah sehingga airnya terus mendidih.



Tidak jauh dari kawah gomuka, Sang Suratma dengan wujud raksasa yang penuh wibawa, penguasa para atma sedang menghukum atmaning usadha, karena dulu dukun yang menguasai ilmu pengobatan yang dahulu pernah lalai menyembuhkan orang sakit melakukan maal praktek, dan selalu meminta imbalan yang tinggi kepada orang yang diobatinya. Disebelahnya Sang Bhuta Wirosa yang berwujud raksasa maha sakti sedang menghukum atma mamaling nasi, ini terjadi karena pada saat di mayapada ia suka mencuri makanan. Karena itu sebaiknya jangan sekali-kali mencuri nasi, seberapa pun lapar dirasakan.

Beberapa meter dari tempat itu, Sang Bhuta Wingkara yang bengis bersama Bhuta Lilipan yang berwujud aneh, memiliki belalai seperti gajah dan tubuhnya seperti tubuh singa, mulutnya penuh bisa seperti ular sedang menyiksa atmaning wong aboros, atma yang suka berburu membunuh binatang yang tidak patut dibunuh. Disebelahnya lagi, tampak Sang Bhuta Mandar dan Sang Bhuta Mandir, dua raksasa bengis saudara kembar sedang menggergaji kepala atma wong alpaka guru, atma yang tidak melakukan kewajiban sebagai putra yang baik (suputra) karena melalaikan kedua orangtuanya, melalaikan kewajibannya.

Di tempat lain Sang Jogor Manik, sedang mengadili dua atma, yang satu atma kedi dan yang satu lagi atma kliru, yang satu laki-laki tapi seperti perempuan, yang satu lagi perempuan seperti laki-laki. Tidak jauh dari situ, mereka melihat Sang Jogor Manik sedang menghukum atma angadol prasasti atau atma yang menjual prasasti.

Sedangkan di sebelahnya Bhuta Tog-tog Sil yang matanya besar sedang menyiksa atma angadol prasasti lainnya. Berdekatan dari tempat itu, banyak atma yang disebut atma tan pasantana, atma yang tidak memiliki keturunan digantung dipohon bamboo. Sementara itu, atma nora matatah, atma yang belum melaksanakan upacara potong gigi sambil menggigit pohon bamboo disiksa oleh Bhuta Brungut yang menyeramkan sedang menghunus pedang.



Beranjak selangkah dari tempat itu, lagi-lagi ditemukan Sang Jogor Manik sedang berhadapan dengan atma aniti karma, atma yang semasa hidupnya sangat ramah tamah dan tidak membanding-bandingkan tamu yang datang kepadanya. Disebelahnya, atma angrawun yang semasa hidupnya meracuni banyak orang sedang diberi makan medang (bulu halus bambu) oleh Bhuta Ramya yang suaranya gemuruh.

Sedangkan, berdekatan dengan itu, Sang Bhuta Edan yang suka mengamuk sedang menyiksa atmaning wong andesti, atma yang semasa hidupnya menggunakan ilmu hitam untuk menyakiti orang lain. Disebelahnya lagi, atma wong bengkung yang tidak mau menyusui bayinya disiksa dengan mematukkan ular tanah pada puting susunya oleh Bhuta Pretu yang menjerit-jerit memekakkan telinga.

Ditempat itu pula, Bhuta Janggitan yang menyeramkan sedang menyiksa atma pande corah, atma ahli membuat senjata mungkin bom yang untuk menghancurkan orang lain. Selain itu, ada lagi kawah gomuka dengan air mendidih berisi atma yang direbus karena kesalahannya pada waktu menjelma menjadi manusia sebagai koruptor, suka menfitnah, maling, madat dll. Tampaknya di neraka yang luas ini, tidak terhitung jumlah kawah gomuka bertebaran dimana-mana.

Demikian pula, begitu banyak atma yang bersalah pada masa lalu dihukum sesuai tingkat kesalahannya. Atma Jalir, baik laki-laki maupun perempuan yang semasa hidupnya suka berselingkuh, disiksa oleh Bhuta Lendi maupun Bhuta Lende dengan membakar kemaluannya.
Dijumpai pula Sang Jogor Manik yang seram dan menakutkan sedang menguji atma putus, yaitu atma yang dalam kehidupannya di dunia tiada tercela, selalu berbuat baik dan pandai. Tiada berapa lama kemudian, sang atma putus diijinkan memasuki sorga.
Begitulah kiranya penghukuman para atma sesuai kesalahannya.



Setelah membaca tulisan yang kental berbagai etika yang menjadi dasar prilaku umat Hindu, cerita diatas seperti menepuk pundak untuk mengambil jeda langkah sejenak diantara hiruk pikuk pergaulan hidup dan merenungkan kembali pentingnya ajaran Karmapala, dimana setiap perbuatan akan mendapatkan pahala yang setimpal.
Lanjut Baca >>

Selasa, 29 Maret 2011

Tabuh Rah


Bentuk tabuh-rah yang menurut ketentuan prasasti adalah penyambleh untuk tingkatan yang lebih besar (vide prasasti Jayanegara II tahun 1245 C) dan Tetabuhan arak berem untuk tingkatan Bhuta Yadnya yang kecil.

Setiap jenis bhuta yadnya menggunakan penyambleh dan atau tetabuhan arak berem, sedangkan tabuh-rah dalam bentuk adu ayam tidak dilaksanakan untuk setiap jenis bhuta yadnya. Memang ada keterangan di dalam lontar Ciwatattwapurana yang menyebutkan, bahwa pada tilem Kesanga orang menyelenggarakan Tawur dan mengadakan perangsatha (adu ayam). Hal inilah yang menjadi tradisi di Bali hingga sekarang. Tetapi kalau direnungkan secara mendalam dan ditinjau dari hakekat ajaran agama Hindu, maka tradisi yang demikian itu perlu untuk direnungkan kembali, mengingat kesadaran cara-cara hidup beragama dikalangan umat kita telah maju ketingkat logika analisis.

Sebagai contoh, setiap Tilem Kesanga di lapangan Puputan Badung, dilakukan tawur kesanga, tetapi ditempat itu tidak pernah dilakukan Tabuh-rah dalam bentuk adu-ayam. Jadi berarti tabuh-rah dalam bentuk adu-ayam adalah tidak mutlak.



Jenis yadnya yang menggunakan Tabuh-rah.
Sejalan dengan keterangan diatas, bahwa jenis yadnya yang menggunakan tabuh-rah, hanyalah Bhuta yadnya. Kendatipun demikian namun didalam pelaksanaannya, Panca Yadnya itu tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya. Diantara jenis-jenis yadnya itu maka yang paling jelas atau paling erat kaitannya dengan Bhuta yadnya adalah Dewa yadnya. Misalnya mebanten canang pada waktu kliwon, diiringi dengan segehan. Mebanten canang itu tergolong Dewa yadnya, sedangkan mesegeh tergolong Bhuta yadnya.
Kaitan yadnya-yadnya dalam Panca yadnya dengan jelas kelihatannya dalam Upacara Dewa yadnya yaitu : Karya Melaspas Sanggah. Apabila diperhatikan secara seksama, bahwa dalam upacara itu ada unsur :
1. Bhuta Yadnya yaitu caru sebagai dasar daripada Karya Melaspas itu.
2. Dewa Yadnya yaitu melaspas pelinggih yang baru dengan mengisi Pedagingan.
3. Pitra Yadnya yaitu menstanakan Dewa Pitra di Sanggah Kamulan yang baru diplaspas. Upacara ini disebut Atmaprastistha.
4. Rs iYadnya yaitu menghaturkan sesantun kepada Sang Muput Karya tersebut.
5. Manusa Yadnya yaitu keluarga bersangkutan mabiakala, maprayascita dan kadang-kadang matatah dengan istilah ngalungsur di sanggah.

Meskipun kelima jenis unsure panca yadnya ada didalam karya melaspas sanggah itu namun secara keseluruhannya digolongkan kedalam upacara Dewa Yadnya. Contoh lain misalnya didalam menghaturkan tawur kasanga, tawurnya sendiri adalah Bhuta yadnya sedangkan aturan di Sanggar Surya atau di Sanggar Tawang adalah dewa yadnya. Tetapi secara keseluruhan upacara itu disebut Bhuta Yadnya. Maka dari itu pelaksanaan panca yadnya, sesungguhnya tidaklah terpisah-pisah menyendiri, melainkan berkaitan satu sama lain. Hanya saja ada penonjolan salah satu jenis yadnya yang memberikan predikat kepada keseluruhan upacara yang dilaksanakan itu.

Mengapa bhuta yadnya tidak bisa dipisahkan dengan dewa yadnya? Kalau kita berpikir secara konsepsional, bahwa Dewa dan Bhuta itu adalah Tunggal. Aspek Dewa didalam santa (ketenangan, kasih saying, kedamaian) disebut Dewi atau Bhatari, sedangkan aspek Dewa di dalam krodha (marah) bersifat negative. Misalnya Dewa Ciwa dalam aspek santa disebut Uma, Parwati, Gayatri, Giriputri dan sebagainya sedangkan aspek krodhanya disebut Durga, Kalika, Candika, Singawahini dan sebagainya.
Maka itulah mantra untuk segehan berintikan : Bhuta-bucari, Kala-bucari, Durga-bucari. Setelah diberi yadnya maka Bhuta-kala itu menjadi somya pada diri manusia. Maka itulah di dalam lontar Ciwatattwapurana disebut “Dewa-ya Bhuta-ya Manusa-ya”
Dengan ungkapan ini, maka jelaslah setiap jenis yadnya mengandung unsur Bhuta-yadnya, minimal dalam bentuk segehan. Itu berarti tabuh-rah selalu dipergunakan di setiap upacara. Masalahnya sekarang apakah tabuh-rah berupa darah ataukah berupa tetabuhan aram-berem..???

Tingkatan yadnya yang menggunakan Tabuh-rah
Seperti yang sudah saya kemukakan tadi, bahwa semua jenis upacara Bhuta-Yadnya menggunakan tabuh-rah. Ada tabuh-rah dengan menggunakan darah dan sampai tingkatan mana memakai tabuh-rah dengan sarana tetabuhan arak-berem?
Dalam memecahkan masalah ini saya mengalami kesulitan mendapatkan sumber dari sastra agama. Barangkali sastranya ada, tetapi saya belum menjumpainya. Sebagai rumusan sementara, saya mengambil dari hasil pengamatan dalam praktek upacara Bhuta-Yadnya yang telah berlaku dimasyarakat. Dari hasil pengamatan itu saya mengambil kesimpulan sementara adalah sebagai berikut :
1. Tabuh-rah dengan sarana darah dalam bentuk penyambleh, dilakukan dalam Bhuta-yadnya mulai dari segehan-agung sampai dengan tingkat Bhuta-yadnya yang terbesar.
2. Tabuh-rah dengan sarana tetabuhan arak berem, dilakukan dalam Bhuta-yadnya tingkat segehan biasa (nasi kepel)
3. Di dalam praktek sehari-hari, walaupun sudah menggunakan tabuh dengan darah dalam bentuk penyambleh, namun tetabuhan arak berem juga tetap dipakai, bahkan kadang-kadang ditambah dengan tuak.



(sumber : Seminar Kesatuan Tafsir terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu)
Astungkara.
Lanjut Baca >>

Jumat, 25 Maret 2011

Kelapa Gading sebagai sarana Melukat.



Tulisan saya kali ini akan membahas tentang kelapa gading. Menjawab permintaan teman yang ingin mengetahui mengapa kelapa gading dipakai untuk melukat.

KENAPA KELAPA GADING.
Kenapa klungah kelapa gading yang dipergunakan untu melukat? Kelapa gading adalah simbol CIWA RADITYA. Dengan warna yang kuning keemasan sama dengan warna matahari, maka kelapa gading menyerap cahaya matahari sangat banyak. Ini berarti bahwa kelapa gading menyerap prana matahari yang paling.

Pada jaman dahulu, Ida Pedanda Sakti juga menggunakan klungah/bungkak kelapa gading untuk memperlancar proses ritual beliau. Akibat prana matahari yang kuat, maka air kelapanya memiliki daya pembersih yang sangat kuat. Daya yang demikian kuatnya ini dapat unutuk membersihkan badan secara lahir dan bathin. Mampu merubah aura tubuh menjadi prana ; mampu membuka cakra spiritual; mampu menetralisir pencemaran tubuh manusia , serta mengurangi bekas-bekas pengaruh hewani, membersihkan pengaruh negative magic ataupun mengobati penyakit.
Klungah/bungkak kelapa gading juga bisa digunakan sebagai sarana untuk menerima prana yang berasal dari awatara suci. Namun yang paling penting, sebelum klungah/bungkak digunakan, jangan lupa dibangkitkan dahulu. Bungkak harus dikasturi (dipotong segitiga) terlebih dahulu, selain untuk menguripkan juga membuat mineral yang terdapat dalam air bungkak bereaksi secara kimia. Setelah bungkak siap baru dibangkitkan aura dan prananya sehingga bisa digunakan sebagaimana mestinya untuk kepentingan ritual dan spiritual.


Astungkara.
Lanjut Baca >>

Rabu, 15 Desember 2010

Patung-patung dan Pratima



Agama Hindu di pulau Bali ini banyak sekali menggunakan patung-patung yang berfungsi sebagai patung-patung Perwujudan yang disebut Pratima atau Arca.

Pratima ini bentuknya biasanya kecil dibuat dari kayu cendana atau kayu-kayu yang harum, kadang-kadang dihias dengan emas atau permata dan dapat dikeramatkan sedemikian rupa, hingga bisa dilihat pada hari-hari upacara. Pratima ini menggambarkan perujudan Ida Bhatara dan berfungsi sebagai alat konsentrasi perasaan dan pikiran supaya lebih mantap dan fokus. Ajaran bhakti marga yang sangat berpengaruh di Bali mengutamakan pemujaan yang berwujud pencurahan rasa bhakti yang tidak lain adalah rasa cinta kasih dan penyerahan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi.

Getaran bhakti (cinta kasih), ini merupakan obyek yaitu Pratima dan Palinggihnya. Simbol ini sangat penting bagi penganut bhakti marga, meskipun secara filosofi mereka tahu bahwa Ida Sang Hyang Widhi ada dimana-mana, tidak bisa dilihat, tidak berwujud, namun untuk memantapkan pemusatan perasaan dan pikirannya, mereka membuat pelinggih-pelinggih seolah-olah disanalah Ida Sang Hyang Widhi bertahta.

Mereka membuat pratima, seolah-olah pratima itulah, perwujudan Beliau. Simbol atau perwujudan sangat penting bagi seseorang yang bhakti, walaupun secara akal bisa ditertawakan, karena pretima itu tidaklah lebih dari kayu bahannya namun orang intelek (pandai) pun juga memerlukan perwujudan itu sebagai tanda bhaktinya.

Contoh : cobalah kita melihat upacara menaikkan bendera pada tanggal 17 agustus, semua peserta upacara tunduk dan hormat pada Sang Merah Putih, dan andaikata pada saat itu ada orang yang merobek-robek Sang Merah Putih, semua orang akan menentangnya dan membela sampai mati sekalipun. Padahal, kalau dipikir itu tidak lebih dari secarik kain, tetapi pada saat upacara berfungsi sebagai simbol, mempunyai nilai keramat yang tinggi.
Demikian pula dengan Pratima.

Penyalahgunaanya.
Kini umat Hindu mulai merasa tidak aman, pratima ini menjadi incaran maling dan para orang-orang yang tidak baik, karena harganya cukup mahal sebagai barang antik untuk dijual kepada wisatawan. Cobalah lagi, kalau malingnya tertangkap, paling banyak dia dikenakan hukuman 3 bulan potong masa tahanan, tetapi akibat yang ditimbulkan desa yang kehilangan pratima adalah wajib melaksanakan Penyucian Balik Sumpah yang biayanya mendekati Rp 1-3 juta. Apakah ini adil?? Kita serahkan kepada hakim yang bijaksana.
Patung-patung Dewa, seperti patung Wisnu, Brahma dan sebagainya bahkan gambar Acintyanya dibuat oleh undagi-undagi untuk dijual, bila yang membelinya tidak mengerti akan fungsinya maka akan menimbulkan penyalahgunaan pemakaiannya serta tempat. Riwayatnya sama dengan meru dan pelinggih yang dipakai hiasan lampu.
Lanjut Baca >>

Jumat, 03 Desember 2010

Tunggun Karang


Sebagaimana lazimnya setiap rumah dari penduduk Bali yang beragama Hindu, semiskin-miskinnya mereka akan tetap berusaha untuk memiliki tempat ibadah yang disebut Sanggah atau Pemerajan dan bangunan penjaga rumah secara spiritual yang disebut Tunggun Karang. Bagi umat Hindu, Tunggun Karang ini merupakan hal yang sangat penting fungsinya demi untuk menjaga keselamatan seluruh isi rumah, dari kekuatan-kekuatan tidak baik secara magis maupun pencuri atau orang yang berkemauan tidak baik.

Posisi/Letak
Letak Tunggun Karang itu sepatutnya disebelah Barat Laut dari pekarangan/tanah, yaitu disudut barat laut pekarangan rumah yaitu disudut barat laut pekarangan.

Yang Melinggih
Yang didudukan disana adalah Bhatara Kala. Didalam bahasa sansekerta, Kala itu berarti energi, juga berarti waktu, maka dalam kaitan Tunggun Karang, Kala ini lebih dekat dengan arti energi, yaitu kekuatan yang menjaga keselamatan dari pada seluruh isi keluarga. Didalam mitologinya disebutkan bahwa Bhatara Kala yang selalu merusak dan mengambil korban berupa bencana oleh Bhatara Siwa dibuat menjadi somia, yaitu jinak dan tenang serta kemudian diperintahkan agar bertempat tinggal dipekarangan rumah disudut barat laut, ikut menjaga keselamatan manusia yang tetap ingat kepada Ida Hyang Widhi atau Tuhan.

Dengan demikian kekuatan alam semesta inilah, yang dilukiskan dengan Bhatara Kala, kekuatan alam semesta yang tidak diatur akan bisa membuat bencana, tetapi Bhatara Siwa atau Tuhan Yang Maha Esa yang membuat tenang kekuatan itu dan dianugrahkan kepada manusia agar mendapatkan keselamatan.

Namun kini, sejak berkembangnya hotel di pulau Bali, banyak sekali hotel yang membuat bangunan-bangunan yang menyerupai Tunggun Karang, sehingga dalam satu pekarangan hotel, kalau toh membuat Tunggun Karang semestinya cukup satu saja, tetapi nyatanya mereka membuat banyak dan tiap sudut mungkin dengan maksud agar wisatawan mereka tertarik dengan penonjolan-penonjolan bangunan-bangunan khas Bali.



Astungkara.
Lanjut Baca >>

Minggu, 21 November 2010

Pengetahuan Tentang Tuhan.



Dapat kiranya manusia di dunia ini dengan langsung mengenal Tuhan, karena manusia (dengan budinya juga) merupakan partisipasi Tuhan? Walaupun partisipasi ini sungguh-sungguh ada, manusia tidak dapat dengan langsung mengenal Tuhan. Tuhan tidak dengan langsung disentuh dengan indra, padahal pengertian hanya tercapai manusia di dunia ini dengan malalui indra lebih dahulu. Manusia hanya dapat mengenal tuhan setelah ia menjalankan pikirannya dengan mempergunakan indranya lebih dulu.

Jadi dalam pengenalan akan Tuhan dimulai dengan indra. Kesimpulan yang tercapai setelah ada jalan pikiran, yang mempergunakan pengetahuan indranya merupakan putusan: ada Tuhan.



Jalan yang pertama melalui gerak atau perubahan di dunia ini segala sesuatunya di dunia ini tak adalah yang tetap, ia berubah, bergerak. Gerak atau perubahan ini tak mungkin sendirinya. Jika sekiranya gerak atau perubahan itu dari sendirinya, maka hal-hal yang ada didunia ini sempurnalah. Sebab : jika ia mengadakan (menggerakkan) diri sendiri, tentulah ia tak kekurangan suatu apa. Tetapi ternyatalah, bahwa di dunia ini segala sesuatunya penuh dengan ketidak sempurnaan.

Jadi teranglah, bahwa segala-galanya di gerakkan. Untuk menerima, bahwa tiap-tiap gerak itu asalnya dari gerak yang mendahului, tak mungkin merupakan keterangan gerak yang sebenarnya, hanya mengundurkan keterangan saja atau boleh dikatakan tidak memberi keterangan tentang gerak pada umumnya. Maka dari itu gerak itu menuntut penggerak pertama, yang sendirinya tidak digerakkan, yang tetap dan abadi, dari sempurna dan ini disebut Tuhan.

Jalan kedua melalui kesebaban. Segala sesuatunya yang kita kenal dengan indera itu adanya selalu disebabkan. Seperti diatas kita juga tidak mungkin menerangkan kesebaban ini dengan menunjuk sebab yang mendahuluinya, sebab ini hanya berarti lari dari keterangan. Maka dari itu haruslah ada sebab pertama, yang tidak disebabkan tetapi menjadi sebab segala-galanya dan ini disebut Tuhan.

Jalan ketiga menunjuk ketidak-niscayaan dunia. Segala sesuatunya didunia ini adanya tidak niscaya; tidak semuanya itu ada dengan keharusan. Hal-hal itu pernah tak ada dan akan tak ada juga, jadi ada di dunia ini selalu mengandung ketiadaan, tak mutlaklah ia. Adapun sebabnya hal-hal itu tidak mutlak, karena ada-nya itu ada-berian, itu bukannya ada-nya sendiri. Jika ada itu ada-nya sendiri ada dari dirinya (bukan dari yang lain), tentulah ia mutlak. Maka dari itu haruslah ada yang mutlak, pangkal dan asal dari segala yang ada, yang mempunyai ada-berian itu. Ada mutlak ini ialah Tuhan.

Jalan keempat agak sulit, tetapi merupakan jalan sesungguhnya yang membawa orang kepada kesimpulan yang sama seperti jalan ketiga diatas; di dunia ini ada kesempurnaan yang bertingkat-tingkat. Terdapatlah hal-hal yang ada begitu saja, terdapat pula yang adanya itu hidup, terdapat juga kecuali ada hidup berasa, dan disamping itu ada hidup berasa dan berbudi. Dalam kesempurnaan-kesempurnaan itu semua terbatas. Maka haruslah ada terdapat ada yang mengandung seluruh kesempurnaan, yang maha sempurna ; dan ini Tuhanlah.

Jalan kelima ialah jalan yang amat jelas bagi orang kebanyakan. Segala sesuatu di dunia ini amat teratur dan terarahkan kepada tujuannya masing-masing dengan hemat dan cermat. Makin kurang budi terdapat padanya, makin nampak teraturnya itu serta makin jitu pengejarannya pada tujuannya. Maka haruslah diterima pengatur yang sendirinya berbudi yang sempurna dengan kekuasaan yang tak berhingga: ini disebut Tuhan.




(sumber: Pembimbing Kearah Alam Filsafat, Prof I.R. POEJAWIJATNA)




Lanjut Baca >>

Minggu, 14 November 2010

Saya pribadi yang Sederhana.



Judul tulisan kali ini bukan hanya untuk penggambaran diri saya sebagai penulis, tetapi juga sebagai penggambaran saya bagi setiap pembaca yang berkenan membaca tulisan ini. Sebagai cermin untuk diri sendiri, yang berguna sebagai renungan dan introspeksi diri untuk meningkatkan diri sendiri.

Sering saya merasa diri saya adalah orang yang menyenangkan dan berguna untuk orang lain, terkadang juga saya merasa sebagai orang yang paling beruntung. Beruntung hidup sebagai saya. Yang hidup berkecukupan kadang sekali waktu kekurangan.

Saya sebagai tempat berkeluh kesah dan tempat mengadu, tapi tidak luput pula bahwa saya sebagai orang yang butuh pertolongan. Saya yang ingin merubah segala hal yang kurang pada diri saya, yang ingin secara sadar berguna untuk orang lain walaupun perjalanan hidup ini susah untuk dilalui, karena selalu berhubungan dengan kepercayaan yang diberikan dari orang lain dan untuk yang lain.

Saya sebagai sosok yang beriman yang senantiasa ingin selalu dekat dengan Tuhan saya, walaupun kadang saya menjadi seorang yang tidak baik dimata mereka dan yang membenci saya. Saya yang tidak luput dari dosa dan ingin untuk memperbaiki kesalahan. Saya yang ingin berubah dari hari ke hari, entah menjadi baik atau buruk.

Semua yang saya lalui melewati koridor kehidupan yang diberikan Yang Maha Kuasa kepada saya serta yang lainnya, bahwasanya kehidupan yang saya lalui berkaitan dengan segala macam unsur alam dan alam itu sendiri.

Saya tidak ingin menyalahkan mereka, semua ada pada diri saya. Diri saya sebagai kapten dalam kehidupan ini dan hati saya sebagai jenderalnya.

Dan pada akhir hidup saya , saya hanya ingin dipandang sebagai pribadi yang sederhana.



Astungkara.
Lanjut Baca >>

Rabu, 03 November 2010

Hargailah Alammu





Tak terasa kita sudah berada di bulan November, di penghujung tahun 2010. hehehe… Tahun Baru lagi dech. Dan angka tahun 2012 semakin dekat. Ha..! Cuma guyonan kok, tapi ngga ada salahnya kita juga mulai berhati-hati karena beberapa bulan ini juga terjadi berbagai macam bencana yang membuat Mr President kita kantung matanya semakin bengkak. Hahahaha…

Postingan saya kali ini ngga jauh-jauh juga dari alam. Hanya bersahabat dengan alam kita bisa terhindar dari amukan alam, dan bencana alam yang lain.

Hubungan Manusia dengan Alam.
Alam itu sendiri dalam bahasa universal sebenarnya terdiri dari berbagai macam unsur, dan dihuni oleh berbagai macam makhluk hidup. Baik secara kasat mata dan tidak. Dengan berbagai macam keanehannya. Alam ini dalam bahasa nyatanya adalah bumi sebagai tempat berpijaknya segala macam makhluk Tuhan. Kita para manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna dan cerdas, hanya saja kita tanpa sadar telah berbuat semena-mena terhadap tempat kita berpijak.

Alam sebagai macrocosmos sangat berkaitan dengan Manusia sebagai microcosmosnya, apa yang ada di alam ini juga ada pada manusia. Alam mempunyai 4 unsur besar yaitu udara, tanah, air dan api. Manusia juga memilikinya, nafas (udara), badan kasar (tanah), darah, keringat dan air seni (air) serta suhu tubuh (api). Alam dengan berbagai macam auranya baik itu positif dan negatif, manusia juga memiliki aura tubuh positif dan negatif sebagai daya tariknya. Alam juga mempunyai berbagai macam keanehan seperti misteri 13 gunung berwajah manusia di seluruh dunia, batu-batu raksasa melengkung, dan 15 danau berwarna-warni pelangi diseluruh dunia termasuk di Indonesia. Manusiapun juga memilikinya seperti garis tangan yang menyatu yang disebut rojo keleng, lidah yang bertompel hitam (dalam istilah bali Blangbungkem).

Dengan kenyataan seperti itu sudah seharusnyalah alam ini dijaga dan dihargai, seperti kita menghargai diri kita sendiri, baik pada alam baik pula pada manusia. Rusak pada alam maka otomatis manusia juga rusak. Banyak dari mereka tidak sadar diri, tidak mau tahu dan merusak alam sebagai tempat mereka berpijak dan hidup.

Bila semua itu diabaikan bukan tidak mungkin film fenomenal 2012 akan segera rilis di bumi ini secara nyata.




Astungkara.
Lanjut Baca >>

Kamis, 28 Oktober 2010

Rita (Hukum dan Aturan)


Dalam pada itu orang sadar benar dengan adanya aturan dalam alam ini. Segala sesuatau di dunia dan alam ini terikat benar oleh hukum yang tertentu, ada dan terjadinya mengikuti aturan.

Tidak dalam alam saja, bahkan dalam masyarakat pun hukum dan aturan ini tidak dapat diabaikan; ada hubungan tertentu antara anak dan orang tuanya, suami dan istrinya, pembesar dan bawahaannya dan seterusnya. Adapun hukum dan aturan ini disebut Rita. Rita ini bukanlah dewa disamping dewa lain. Ia meliputi segala-galanya, baik dewa maupun dunia seisinya terikat oleh rita itu. Rita ini tak berkehendak dan tak berbudi; itu aturan dan hukum yang tidak dapat dan tidak boleh diabaikan atau dilanggar.

Dewa dan Manusia
Kesadaran akan rita ini bagi ajaran Hindu merupakan pangkalan pikiran yang amat mendalam. Kalau sesungguhnya rita itu yang mengatur segala-galanya, apakah bedanya antara manusia dan dewa? Jika orang memperhatikan sifat dewa-dewa itu, nampaklah bahwa mereka semacam manusia juga. Dunianya lebih makmur, sifat mereka agak melebihi manusia , tidak menjadi tua, tidak mati, tetapi mungkin sedih hati, cemburu, sombong, tidak lurus hati dan lain-lain.

Dalam intinya tidak terlalu berbeda manusia dengan dewa, malahan kalau diperhatikan terkumpullah dalam manusia itu semua dewa, karena pada manusia itu terdapat kekuatan-kekuatan alam. Bukankah budi manusia itu terpancar dan bersinar seperti api (AGNI) bukankah nafasnya itu angin (VAYU), dan matanya itu berkilau-kilau seperti SURYA? Adapun badannya semacam bumi yang mendukung dan merasakan segala kekuatan alam.

Maka perhatian ahli pikir lambat-laun terarahkan kepada manusia sendiri, karena demikianlah pikiran mereka, jika orang sungguh-sungguh dapat memahami manusia sedalam-dalamnya, ada kemungkinan dapat memahami alam seluruhnya. Bahwa kemudian manusia sungguh-sungguh menjadi pusat pandangan ahli pikir Hindu ternyata dari sejarahnya.
Lanjut Baca >>

Senin, 25 Oktober 2010

Dewa



Kepada siapakah korban itu dipersembahkan? Menurut Veda korban itu diantarkan kepada Dewa. Kata ini serta dalam pengertiannya terkenal dalam bahasa Indonesia. Banyaklah dewa ini disebut-sebut dalam Veda, akan tetapi yang utama hanya beberapa saja.

Yang berkuasa ialah Indra, ia itu dewa guntur dan dewa perang. Oleh karena bangsa Arya itu bangsa yang hidup di luar dan suka berperang, tidaklah heran bahwa hormat dan pujian mereka ditujukan kepada yang berkuasa atas kekuatan alam yang dahsyat dan perang.

Disamping Indra adalah dewa Visnu, yang biasanya dianggap sebagai penyelenggara dunia dan alam semesta. Kecuali dua dewa ini masih ada Agni, dewa Api, Surya sebagai dewa Matahari, Vayu, dewa Angin dan Rudra, dewa Pengrusak.



Kalau sifat-sifat dewa ini diperhatikan, ternyata bahwa semuanya itu tak lain dari kekuatan alam yang di”dewa-dewa”kan. Nama dewa-dewa itu itu pun dalam bahasa sansekerta hanya menunjukkan kekuatan-kekuatan alam itu saja. Orang merasakan akan kekuatan tersebut serta kekuasaannya, dan oleh karena tidak dapat menerangkan apakah kekuatan dan kekuasaan itu sebenarnya, lalu dianggap semacam orang, akan tetapi lebih berkuasa serta sifatnya pun disana-sini berbeda juga dari manusia biasa dan inilah disebutnya DEWA.
Lanjut Baca >>

Minggu, 24 Oktober 2010

Veda


Sudah lama sekali, berabad-abad sebelum permulaan abad kita ini, jauh lebih lama sebelum orang Yunani berfilsafat dan meninggalkan warisan buah pikirannya yang tertulis, sudah adalah bahan tertulis ditanah Hindu yang memuat buah pikiran Hindu.

Bahan itu tidak boleh dikatakan memuat filsafat Hindu karena disana terdapat pula ajaran-ajaran yang boleh kita sebut agama karena berdasarkan kepercayaan. Bahan tertulis yang dihormati benar oleh masyarakat Hindu ini disebut Veda. Keseluruhan alam pikiran yang merupakan filsafat dan agama itu untuk mudahnya disebut Vedisme.

Untuk agak mengerti akan keseluruhan alam pikiran ini, haruslah kita mengemukakan sejarah sedikit serta sepintas lalu menyelami pikiran yang hidup pada kelompok manusia yang biasanya disebut bangsa Arya serta dianggap pemilik Veda itu.

Sebagai bangsa yang mengembara, bangsa Arya itu meninggalkan tanah airnya berpindah ke tanah datar sungai Indus. Bilamana ini terjadi tak dapat ditentukan, kira-kira antara tahun 1000 dan 2000 sebelum Masehi. Walaupun tak dapat diketahui, bagaimana keadaban dan kebudayaan bangsa Arya ini, tetapi teranglah, bahwa mereka itu gagah berani, suka mengembara dan keras hati. Tentu saja mereka yang baru mendatang ini segera berlawanan dengan bangsa-bangsa yang sudah ada disana. Bangsa apa ini tidah diketahui benar. Penduduk asli ini dikalahkan oleh bangsa Arya.

Mula-mula bangsa baru ini tinggal dibagian barat laut tanah Hindu yang disebut orang Punjab. Pada lembah yang subur ini orang Arya mulai hidup teratur walaupun mereka berusaha tidak bercampur darah dengan bangsa yang dahulu sudah ada disitu, lama kelamaan ada juga percampuran darah, meskipun tak amat banyak. Pada ketika itulah terlahirkan Veda yang akan menjadi pangkal dan pedoman pikiran Hindu untuk kemudian hari.

Sejarah politik bangsa Arya yang makin besar kekuasaannya ini tidak kita ikuti. Baiklah kita perhatikan Veda itu.




Isi dan macam Veda.
Adapun isi Veda itu semuanya bersangkutan dengan upacara agama, terutama korban. Dalam agama mereka korban itu amat penting. Ada korban bagi perseorangan, ada yang bagi umum, seluruh masyarakat. Kalau diantarkan korban umum ini, ada pengorban resmi dan sudah dari dahulu kala ada golongan pengorban resmi itu, karena jabatan pengorban resmi itu turun temurun. Korban resmi demikian itu biasanya besar-besaran dan persediaannya pun tidak sedikit pula. Mulai dari persediaan itu orang harus memperhatikan aturan-aturan upacara tertentu: setelah tempat untuk korban itu disediakan, maka disediakan korban atau persembahan yang bermacam-macam jenisnya: padi, beras, susu, mentega dan lain-lainnya, biasanya hasil bumi dan ternaknya. Yang terpenting diantara korban itu ialah soma, berupa minuman keras. Untuk menyediakan soma ini ada upacara yang tertentu dan selaras dengan kepentingan persembahan itu, upacara inipun amat penting pula. Dalam pada itu dinyanyikan puji-pujian (soman) oleh penyanyi resmi (utgatar).

Upacara-upacara pengorbanan terikat aturan-aturan yang tertib sekali, serta doa-doa yang harus diucapkan pun sudah tertentukan pula dan tak bolehlah orang menyimpang sedikit pun dari aturan-aturan semuanya itu. Jika sekiranya orang tidak mentaati aturan itu, meski hanya sedikit sekalipun bedanya, tak sahlah korban itu. Dari itu ada seorang yang ahli dalam korban yang mengawasi semuanya, supaya tata tertib dalam pengorbanan itu berlaku dengan semestinya. Ahli korban inilah yang sesungguhnya menjadi pengorban, karena dialah yang dapat menentukan baik-tidaknya, sah atau tidaknya korban itu. Korban itu disebut brahma, ahli korban disebut brahmana.






Berhubung dengan upacara-upacara pengorbanan ini, Veda digolong-golongkan menjadi 4 golongan:
Rig-Veda; inilah yang tertua dari semua Veda, berisi pujian.
Sama-Veda; berisi nyanyian-nyanyian yang di nyanyikan oleh utgatar, waktu orang menyediakan minuman untuk korban yang penting itu.
Yajur-Veda; berisi mantra-mantra dalam bentuk prosa, biasa dipergunakan dalam pengorbanan yang sebenarnya.
Atharwa-Veda; berisi uraian dan doa-doa yang harus dikenal para brahmana.
Lanjut Baca >>

Minggu, 17 Oktober 2010

Filsafat Hindu


Tidak hanya ahli-ahli pikir Yunani saja yang memikirkan soal-soal alam semesta. Orang Hindu pun tahu dan merasakan benar-benar bahwa dunia (alam) ini penuh rahasia serta bahwa manusia yang ada di tengah-tengah dunia ini merupakan sesuatu yang amat kecil, tetapi sebaliknya besar juga artinya. Maka ada cenderung manusia untuk menyelidiki dan memahami alam semesta dan segala isinya.

Manusia merasakan sungguh-sungguh kefanaan duniawi dan rindu dengan sepenuh hati pada yang baka. Manusia tahu juga, bahwa ia amat terikat oleh kekuasaan-kekuasaan yang menariknya ke bawah serta menghalangi terbangnya mencari kebakaan tersebut. Dari sebab itu dicarinya usaha untuk bebas dari ikatan duniawi itu. Ahli pikir memutar akalnya untuk mencari jalan bebas. Timbullah bermacam-macam filsafat di tanah Hindu, tetapi dalam bermacam-macam itu telah terasa usaha mencari kebebasan dari ikatan itu.

Jika di tanah Yunani ahli pikir mencurahkan tenaganya untuk mencapai kebenaran, ahli pikir filsafat Hindu berpikir untuk mencari jalan lepas dari ikatan duniawi untuk masuk ke dalam kebebasan yang baginya merupakan kesempurnaan. Memang orang Hindu pun mencari kebenaran, tetapi tidaklah demi kebenaran belaka, melainkan untuk bebas dari dunia. Filsafat Hindu menyelidiki alam, dicari inti sarinya, diselami hakekatnya, dicari sebab-sebab yang sedalam-dalamnya, akan tetapi filsafat tidaklah berhenti sampai disitu saja, masih mempunyai tujuan lebih lanjut: kebebasan.
Lanjut Baca >>

Senin, 11 Oktober 2010

Wejangan dan belajar Bijaksana II


Baik atau buruk nasib kita sebagai manusia jangan diperbandingkan dengan orang lain. Karena hal itu bisa membawa rasa iri dan ketidak adilan dalam diri kita. Adalah satu dosa besar kalau kita sampai mengatakan bahwa Tuhanlah yang telah berlaku tidak adil pada kita. Padahal jalan nasib seseorang sudah ditentukan sebelumnya oleh Sang Pencipta.



Semua yang datang dari orang lain tidak akan ada gunanya jika tidak dituruti. Suara hati nurani sendiri, yang datang dari lubuk terdalam hati yang tulus dan bersih adalah mata telinga bagi diri seseorang untuk melangkah dijalan yang baik dan benar. (Kiai Gde Tapa Pamungkas)



Mungkin perasaan hati terkadang menyesatkan. Namun bagaimanapun juga perasaan hati adalah satu kejujuran yang tidak pernah berkata dusta. Murni dan bersih seperti embun di pagi hari. (J.Bagus)



Keangkuhan dan kesombongan, sifat kasar dan mau menang sendiri serta selalu berprasangka buruk pada orang lain sering membawa seseorang ke dalam hidup yang menyedihkan.



Jika kau membuang satu persatu orang-orang yang selama ini dekat dan bersahabat denganmu, di hari-hari terakhirmu dalam kehidupan ini kau akan merasa kesepian. Sangat kesepian! Perasaan itu lebih perih dari sayatan pisau dilubuk hatimu, akan lebih menyesakkan dari tindihan batu gunung. (kata hati seorang yang angkuh)



Tiap masalah tidak harus dilewati dengan jalan baik, tapi akan selalu berakhir untuk kebaikkan dan kebenaran. (J.Bagus)



Tanpa imajinasi, kita seperti orang-orang malang yang membosankan. (J.Bagus)



Penting untuk menjadi netral, berusaha untuk tidak berusaha. (Yen Wen)


Lanjut Baca >>

Minggu, 03 Oktober 2010

Wejangan dan belajar Bijaksana


Hendaknya janganlah tanpa pertimbangan sama sekali. Diri sendirilah yang selalu harus diteliti. Tingkah laku diri kita sendiri sehari-harilah yang harus diawasi dengan pertimbangan: salahkah tingkah laku saya sebagai ini? Atau benarkah? Apa yang sebagai ini sama dengan tingkah laku binatang? Atau apakah sama dengan perilaku pendeta? Semua ini disebabkan oleh perilaku diri sendiri. Demikianlah cara merenungkan setiap hari. Berusahalah meneliti perilaku diri sendiri setiap hari.

Bertambahnya umur, sering kita dituntut makin dewasa, untuk belajar menjadi dewasa kita biasanya ditempa lewat pengalaman dan pembelajaran diri. Pembelajaran diri adalah salah satunya dengan belajar untuk bijaksana. Saya mencoba merangkum beberapa kata bijak yang saya ketahui , semoga bisa untuk dipikirkan dan direnungi..

Apapun keadaanmu, satu yang mesti diyakini..
memaafkan, welas asih, cinta dan kasih sayang.




Dalam diri setiap orang terdapat kekuatan untuk
menjadi sehat dan menjadi sakit, untuk menjadi
kaya dan menjadi miskin, untuk hidup bebas dan
menjadi budak.
Kita sendirilah yang menentukan itu.
Bukan sesuatu, atau seseorang.
(Richard Bach)



Makin besar kecenderungan seseorang untuk berharap dan kebutuhannya
untuk berharap serta kemampuannya untuk mengalami pembaharuan
harapan, makin besar kecenderungan bahwa orang tersebut berada
dalam beberapa pengertian dari kata
" religius ". (Andrew M. Greeley)




Dari marah timbul kebingungan..
karena kebingungan ingatan menjadi kalut.
Karena kekalutan ingatan kebijaksanaan
menjadi lenyap, karena lenyapnya
kebijaksanaan seseorang akan hancur.




Orang bebas hanya bisa diatur oleh dirinya sendiri,
dan aturan itu yang akan membuatnya jadi lebih baik
jika mereka secara sadar ingin berubah.
(J.Bagus)





Sesungguhnya, seseorang itu dikenal dari perbuatannya, perkataan
dan pikirannya. Hal itulah yang menarik perhatian setiap orang untuk
mengetahui kepribadian seseorang. Maka dari itu kebaikan itulah
yang harus dibiasakan dalam perkataan, perbuatan dan pikiran.




Setelah mendapatkan kebahagiaan yang ia pandang tiada
terbanding itu dan tetap ada di dalam kebahagiaan itu, tiada
ia akan gentar, walaupun ditimpa malapetaka yang hebat.




Makhluk lahir sendiri, sendiri juga ia akan mati. Sendiri ia menikmati perbuatan baik, sendiri pulalah ia menikmati perbuatan yang buruk itu.(Manu Smrti IV, 240)



Mudah menemui orang yang selalu mengucapkan kata-kata yang menyenangkan, namun sukar mendapat orang yang(suka) mendengarkan dan mengucapkan kata-kata atau ucapan-ucapan yang tidak menyenangkan tetapi bermanfaat. (Ramayana VI, 21)



Jika niatmu ke neraka maka engkau akan ke neraka. Jika niatmu ke surga maka engkau akan ke surga. Selama kau sendiri tidak putus asa, siapa yang bisa memupus asamu?



Cinta tidak tolol. Cinta sesuatu yang suci jika saja manusia mau berlaku jujur. (J.Bagus)




Manusia adalah makhluk yang aneh, ia mudah memaafkan sahabat biasa namun sulit memahami dan memaafkan orang yang dikasihi



Jangan hati mempengaruhi pikiran, jangan pikiran mengacaukan hati.



Hatimu adalah untuk berpikir, berkata dan berbuat. (J.Bagus)
Lanjut Baca >>

Jumat, 01 Oktober 2010

Bahagia dan Perasaan Hati


Jiwa dari Icwara adalah berada didalam semua makhluk hidup. Tetapi oleh karena didalam tubuh, Ia menjadi pusat awidya dan keakuan. Ia menimbulkan perasaan hati pada manusia, lalu Ia hidup didunia ini dan memerlukan pertumbuhan. Dalam pertumbuhannya itu, Ia mencari kebahagiannya.

Didalam hidup sehari-hari bila kita melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa atau keburu nafsu, kadang-kadang mengakibatkan kehancuran. Demikian juga jika kita marah atau putus asa akan mengakibatkan ketidakselarasan. Jadi sabar dan tahan uji, adalah dasar perasaan hati yang normal pada setiap manusia. Bila benar caranya kecerdasan itu mengemudikan perasaan, maka hal itu disebut kebajikan. Dan orang yang melakukan hal itu akan dipandang sebagai orang yang baik. Dalam hal ini ia menjadi orang yang budiman, pengasih manusia dan pencinta setiap makhluk. Perasaan hatinya berkembang, dikuasai oleh rasa cinta yang makin mendalam dan akhirnya ia mencapai jiwamukti, yaitu kebebasan rohani yang tertinggi semasih ia hidup didunia ini. Orang yang mencapai keadaan yang demikian itu disebut jiwamukta.

Di dalam Weda Brhadaranyaka Upanisad disebut bahwa Brahman adalah “wijnanam anandam Brahma”, yang maksudnya Brahman adalah kebijaksanaan dan kebahagiaan. Disamping itu di dalam kitab-kitab suci disebutkan juga bahwa Brahman itu bersifat Kebenaran-Kesadaran-Kebahagiaan. Oleh karena Brahman dan Jiwatman pada dasarnya sama, maka alam jiwatman itupun bersifat bahagia. Begitu juga Brahman mempunyai sifat yang bersih dan suci, maka oleh karena itu jiwatman pun bersifat bersih, suci dan bahagia.

Alam ini tidak dipisah-pisahkan karena kesatuan adalah kesucian, dan perasaan kesatuan itu adalah kebahagiaan. Inilah yang menjadi sebab manusia selalu mencari kepuasan akan kebahagiaan karena memang sudah menjadi sifatnyalah untuk mencapai kebahagiaan dan selalu berusaha untuk mewujudkan sifat alamnya itu. Sepanjang perjalanan, ia terus mencari kebahagiaan. Inilah yang menjadi tujuan pertama dalam hidupnya. Didalam perjalanannya untuk mencapai kebahagiaannya itu, sering-sering ia menghadapi kesusahan dan kesenangan, dimana pada akhirnya ia melihat, bahwa kesucian, kebijaksanaan dan kebahagiaan adalah tunggal dan tak dapat dipisah-pisahkan, karena ketiga sifat ini adalah alam Icwara.
Lanjut Baca >>

Senin, 20 September 2010

18 Lohan Buddha (bagian 3)


13.Lohan Pisang raja- Vanavasa
(Riang dan santai, Menganggap jijik Great Void "tempat/api penyucian setelah mati" Dengan hawa-hawa langit dan semangat religius, melampaui dunia fana ini)

Menurut legenda, ia lahir saat hujan lebat, dan pohon pisang di halaman belakang rumahnya yang berdesir dengan ribut. Jadi ia dinamakan Vanavasa, yang berarti hujan dalam bahasa Sanskerta. Kemudian ia menjadi biksu Buddha, akhirnya mencapai pencerahan. Karena dia suka bermeditasi di bawah pohon pisang, ia disebut Lohan Pisang Raja. Dalam mitologi, ia seharusnya ditempatkan di pegunungan Ko-Chu bersama 1.400 lohans yang lebih rendah. Dia kadang-kadang ditampilkan bermeditasi di sebuah gua dengan mata tertutup dan tangan terlipat di lututnya.




14.Lohan membuka hati- Gobaka
(Membuka hati dan disana ada Buddha, masing-masing menampilkan kehebatannya. Kedua tidak harus bersaing, untuk kekuatan Buddha yang tidak terbatas)

Gobaka adalah pangeran dari kerajaan kecil di India. Ketika dia dijadikan putra mahkota, adiknya mulai pemberontakan. Tapi Gobaka meyakinkan adiknya bahwa dia ingin menolak kerajaan dan menjadi seorang biarawan karena ia hanya memiliki Buddha di dalam hatinya. Sebagai bukti, ia membuka dadanya dan memang ada seorang Buddha di dalamnya. Adik kemudian percaya padanya dan berhenti pemberontakan. Gobaka menjadi biarawan. Hal ini diyakini bahwa Gobaka adalah biarawan Shan Wu Wei, yang tiba di Changan (sekarang Xi'an) selama Dinasti Tang pada 716 AD. Gobaka secara harfiah berarti 'manusia hati', lemah secara fisik tapi kuat secara jiwa.




15.Lohan tangan terangkat- Pantha yang lebih tua
(Mudah dan nyaman, Menguap dan meregangkan. Dalam keadaan pengetahuan yang tidak terbatas, mencerminkan kedalaman dimensi penciptaan)

Menurut legenda, Pantha yang lebih tua adalah pangeran dari kerajaan kecil india yang disebut Kintota India. Ketika ia menjadi seorang biarawan, ia suka bermeditasi dengan gaya setengah teratai. Setelah bangun, dia akan mengangkat kedua tangannya dan mengeluarkan napas dalam-dalam, maka nama Tangan Terangkat. Dia adalah kakak dari Lohan Penjaga Pintu. Dua bersaudara berdua itu lahir sementara ibu sedang melakukan perjalanan, dan diberi nama bahasa Sansekerta yang berarti "lahir di jalan."




16.Lohan Mengendari gajah- Kalika
(Sering digambarkan mengendarai gajah, lantang melantunkan sutra. Dengan hati untuk kemanusiaan, Mata membaca sekilas empat penjuru alam semesta)

Kali dalam bahasa Sansekerta berarti gajah. Dan kalika, seorang penunggang gajah, atau seorang pengikut kali. Gajah, karena semangat dan kekuatan besar, ketahanan dan ketekunan, melambangkan kekuatan Buddha. Lohan Kalika adalah seorang biarawan pelatih gajah menjadi Buddha yang telah mendapatkan jasa cukup untuk mencapai pencerahan. Dalam ingatan tentang profesinya terdahulu, ia sering digambarkan dengan gajah.




17.Lohan berpikir- Rahula
(Mempertimbangkan dan bermeditasi, Memahami ini semua. Di atas dunia ini dan bebas dari persetujuan, Kasih sayang disampaikan ke Surga Kesembilan)

Rahula adalah nama india sebuah konstelasi perbintangan. Di India kuno, diyakini bahwa gerhana disebabkan oleh bintang berada antara bumi dan bulan atau matahari; menghalangi lampu. lohan ini lahir saat gerhana bulan dan diberi nama Rahula, konstelasi yang menyebabkan fenomena ini. Rahula adalah salah satu dari 10 murid favorit Buddha, dan terkenal karena kekuatan meditasinya. Hal ini diyakini bahwa ia bisa menjadi mahakuasa dan mahatahu selama meditasi. Ketika tenggelam dalam pikirannya, ia merenungkan kebijaksanaan dan tindakan.




18.Lohan menduduki rusa- Pindola sang Bharadvaja
(Biasanya digambarkan duduk di atas seekor rusa, Seolah-olah dalam pemikiran mendalam. Dengan ketenangan yang sempurna, Puas dengan menjadi di atas pencarian duniawi)

Pindola sang Bharadvaja, dari keluarga kasta Brahmana tinggi, sebelumnya seorang pejabat pemerintah yang kuat dalam sebuah kerajaan India, sangat dipercaya oleh raja. Suatu hari ia tiba-tiba memutuskan untuk menjadi seorang biarawan Buddha dan, tidak ingin mendengar permohonan yang mendesak dari raja, ia meninggalkan untuk bergabung dalam sebuah biara di pegunungan.Suatu hari, ia muncul di depan istana, naik rusa. Menyadari dia, para penjaga kerajaan segera melaporkan kepada raja yang kemudian keluar untuk menerima-Nya. Raja mengatakan bahwa dia bisa memiliki posisinya kembali kalau dia mau. Bharadvaja menolak dan mengatakan bahwa dia kembali untuk meminta raja untuk bergabung dengannya. Setelah percakapan yang panjang, berbagai metafora gunakan untuk menjelaskan dosa yang makan daging dan keinginan, akhirnya dia meyakinkan raja, yang turun tahta dan mendukung putranya serta mengikuti Bharadvaja menjadi biarawan.
Lanjut Baca >>