
Sepertinya kita semua perlu menyisihkan waktu untuk merenung, menenangkan diri diantara hingar bingar berita atau informasi yang singgah diruang-ruang rumah kita. Bayangkan akibat kemajuan ilmu dan teknologi informasi, semua rentang dunia seperti tanpa jarak.
Apa yang dibayangkan dan dikhawatirkan orang pada awal abad millenium tiga ini menjadi kenyataan. Teknologi informasi computer, teknologi internet, tidak saja akan meniadakan sekat ruang jagat raya, namun lebih dekat dengan kita, juga mempengaruhi prilaku keseharian umat manusia.
PenghukumanBerikut ini adalah cerita tentang pelaksanaan sanksi bagi para atma sesuai perbuatan yang dilakukan saat menghuni raga manusia di mayapada.
Pertama-tama terlihat
Bhuta Tog-tog Sil, babutan (
makhluk angkara) dengan wujud mata yang besar menghakimi
atma tattwa (atma yang menyalahgunakan pengetahuan tattwa) dan
atma curiga (atma yang penuh curiga, mencurigai yang tidak patut dicurigai). Disebelahnya,
Bhuta Naya (raksasa yang kadang tampak kadang tidak nampak) bersama-sama
Bhuta Celeng, babutan berbentuk babi menghukum atma yang sewaktu di mayapada berprilaku buruk, jahat. Tak jauh dari itu, tampak
Bhuta Abang, babutan yang berwujud raksasa berkulit merah menyala sedang menggotong
atma lengit, atma yang semasa hidupnya malas bekerja, akan dicemplungkan ke bejana besar dengan air mendidih yang disebut
kawah gomuka.
Disebelah kanannya dari bejana itu, tampak
Sang Bhuta Ireng, babutan berwujud raksasa berkulit hitam bersama
Sang Bhuta Prungut, babutan yang bertubuh besar, berkulit dan berwajah angker menggotong
atma corah, atma yang semasa hidupnya senantiasa berprilaku buruk untuk dicemplungkan ke kawah gomuka. Sementara itu,
Bhuta Ode-ode, babutan yang bertubuh gemuk dengan kepala plontos meniup api di bawah jambangan kawah sehingga airnya terus mendidih.

Tidak jauh dari kawah gomuka,
Sang Suratma dengan wujud raksasa yang penuh wibawa, penguasa para atma sedang menghukum
atmaning usadha, karena dulu dukun yang menguasai ilmu pengobatan yang dahulu pernah lalai menyembuhkan orang sakit melakukan maal praktek, dan selalu meminta imbalan yang tinggi kepada orang yang diobatinya. Disebelahnya
Sang Bhuta Wirosa yang berwujud raksasa maha sakti sedang menghukum
atma mamaling nasi, ini terjadi karena pada saat di mayapada ia suka mencuri makanan. Karena itu sebaiknya jangan sekali-kali mencuri nasi, seberapa pun lapar dirasakan.
Beberapa meter dari tempat itu,
Sang Bhuta Wingkara yang bengis bersama
Bhuta Lilipan yang berwujud aneh, memiliki belalai seperti gajah dan tubuhnya seperti tubuh singa, mulutnya penuh bisa seperti ular sedang menyiksa
atmaning wong aboros, atma yang suka berburu membunuh binatang yang tidak patut dibunuh. Disebelahnya lagi, tampak
Sang Bhuta Mandar dan
Sang Bhuta Mandir, dua raksasa bengis saudara kembar sedang menggergaji kepala
atma wong alpaka guru, atma yang tidak melakukan kewajiban sebagai putra yang baik (suputra) karena melalaikan kedua orangtuanya, melalaikan kewajibannya.
Di tempat lain
Sang Jogor Manik, sedang mengadili dua atma, yang satu
atma kedi dan yang satu lagi
atma kliru, yang satu laki-laki tapi seperti perempuan, yang satu lagi perempuan seperti laki-laki. Tidak jauh dari situ, mereka melihat Sang Jogor Manik sedang menghukum
atma angadol prasasti atau atma yang menjual prasasti.
Sedangkan di sebelahnya Bhuta Tog-tog Sil yang matanya besar sedang menyiksa atma angadol prasasti lainnya. Berdekatan dari tempat itu, banyak atma yang disebut
atma tan pasantana, atma yang tidak memiliki keturunan digantung dipohon bamboo. Sementara itu,
atma nora matatah, atma yang belum melaksanakan upacara potong gigi sambil menggigit pohon bamboo disiksa oleh
Bhuta Brungut yang menyeramkan sedang menghunus pedang.

Beranjak selangkah dari tempat itu, lagi-lagi ditemukan Sang Jogor Manik sedang berhadapan dengan
atma aniti karma, atma yang semasa hidupnya sangat ramah tamah dan tidak membanding-bandingkan tamu yang datang kepadanya. Disebelahnya,
atma angrawun yang semasa hidupnya meracuni banyak orang sedang diberi makan
medang (
bulu halus bambu) oleh
Bhuta Ramya yang suaranya gemuruh.
Sedangkan, berdekatan dengan itu,
Sang Bhuta Edan yang suka mengamuk sedang menyiksa
atmaning wong andesti, atma yang semasa hidupnya menggunakan ilmu hitam untuk menyakiti orang lain. Disebelahnya lagi,
atma wong bengkung yang tidak mau menyusui bayinya disiksa dengan mematukkan ular tanah pada puting susunya oleh
Bhuta Pretu yang menjerit-jerit memekakkan telinga.
Ditempat itu pula,
Bhuta Janggitan yang menyeramkan sedang menyiksa atma pande corah, atma ahli membuat senjata mungkin bom yang untuk menghancurkan orang lain. Selain itu, ada lagi kawah gomuka dengan air mendidih berisi atma yang direbus karena kesalahannya pada waktu menjelma menjadi manusia sebagai koruptor, suka menfitnah, maling, madat dll. Tampaknya di neraka yang luas ini, tidak terhitung jumlah kawah gomuka bertebaran dimana-mana.
Demikian pula, begitu banyak atma yang bersalah pada masa lalu dihukum sesuai tingkat kesalahannya.
Atma Jalir, baik laki-laki maupun perempuan yang semasa hidupnya suka berselingkuh, disiksa oleh
Bhuta Lendi maupun
Bhuta Lende dengan membakar kemaluannya.
Dijumpai pula Sang Jogor Manik yang seram dan menakutkan sedang menguji
atma putus, yaitu atma yang dalam kehidupannya di dunia tiada tercela, selalu berbuat baik dan pandai. Tiada berapa lama kemudian, sang atma putus diijinkan memasuki sorga.
Begitulah kiranya penghukuman para atma sesuai kesalahannya.

Setelah membaca tulisan yang kental berbagai etika yang menjadi dasar prilaku umat Hindu, cerita diatas seperti menepuk pundak untuk mengambil jeda langkah sejenak diantara hiruk pikuk pergaulan hidup dan merenungkan kembali pentingnya ajaran
Karmapala, dimana setiap perbuatan akan mendapatkan pahala yang setimpal.