Selasa, 29 Maret 2011

Tabuh Rah


Bentuk tabuh-rah yang menurut ketentuan prasasti adalah penyambleh untuk tingkatan yang lebih besar (vide prasasti Jayanegara II tahun 1245 C) dan Tetabuhan arak berem untuk tingkatan Bhuta Yadnya yang kecil.

Setiap jenis bhuta yadnya menggunakan penyambleh dan atau tetabuhan arak berem, sedangkan tabuh-rah dalam bentuk adu ayam tidak dilaksanakan untuk setiap jenis bhuta yadnya. Memang ada keterangan di dalam lontar Ciwatattwapurana yang menyebutkan, bahwa pada tilem Kesanga orang menyelenggarakan Tawur dan mengadakan perangsatha (adu ayam). Hal inilah yang menjadi tradisi di Bali hingga sekarang. Tetapi kalau direnungkan secara mendalam dan ditinjau dari hakekat ajaran agama Hindu, maka tradisi yang demikian itu perlu untuk direnungkan kembali, mengingat kesadaran cara-cara hidup beragama dikalangan umat kita telah maju ketingkat logika analisis.

Sebagai contoh, setiap Tilem Kesanga di lapangan Puputan Badung, dilakukan tawur kesanga, tetapi ditempat itu tidak pernah dilakukan Tabuh-rah dalam bentuk adu-ayam. Jadi berarti tabuh-rah dalam bentuk adu-ayam adalah tidak mutlak.



Jenis yadnya yang menggunakan Tabuh-rah.
Sejalan dengan keterangan diatas, bahwa jenis yadnya yang menggunakan tabuh-rah, hanyalah Bhuta yadnya. Kendatipun demikian namun didalam pelaksanaannya, Panca Yadnya itu tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya. Diantara jenis-jenis yadnya itu maka yang paling jelas atau paling erat kaitannya dengan Bhuta yadnya adalah Dewa yadnya. Misalnya mebanten canang pada waktu kliwon, diiringi dengan segehan. Mebanten canang itu tergolong Dewa yadnya, sedangkan mesegeh tergolong Bhuta yadnya.
Kaitan yadnya-yadnya dalam Panca yadnya dengan jelas kelihatannya dalam Upacara Dewa yadnya yaitu : Karya Melaspas Sanggah. Apabila diperhatikan secara seksama, bahwa dalam upacara itu ada unsur :
1. Bhuta Yadnya yaitu caru sebagai dasar daripada Karya Melaspas itu.
2. Dewa Yadnya yaitu melaspas pelinggih yang baru dengan mengisi Pedagingan.
3. Pitra Yadnya yaitu menstanakan Dewa Pitra di Sanggah Kamulan yang baru diplaspas. Upacara ini disebut Atmaprastistha.
4. Rs iYadnya yaitu menghaturkan sesantun kepada Sang Muput Karya tersebut.
5. Manusa Yadnya yaitu keluarga bersangkutan mabiakala, maprayascita dan kadang-kadang matatah dengan istilah ngalungsur di sanggah.

Meskipun kelima jenis unsure panca yadnya ada didalam karya melaspas sanggah itu namun secara keseluruhannya digolongkan kedalam upacara Dewa Yadnya. Contoh lain misalnya didalam menghaturkan tawur kasanga, tawurnya sendiri adalah Bhuta yadnya sedangkan aturan di Sanggar Surya atau di Sanggar Tawang adalah dewa yadnya. Tetapi secara keseluruhan upacara itu disebut Bhuta Yadnya. Maka dari itu pelaksanaan panca yadnya, sesungguhnya tidaklah terpisah-pisah menyendiri, melainkan berkaitan satu sama lain. Hanya saja ada penonjolan salah satu jenis yadnya yang memberikan predikat kepada keseluruhan upacara yang dilaksanakan itu.

Mengapa bhuta yadnya tidak bisa dipisahkan dengan dewa yadnya? Kalau kita berpikir secara konsepsional, bahwa Dewa dan Bhuta itu adalah Tunggal. Aspek Dewa didalam santa (ketenangan, kasih saying, kedamaian) disebut Dewi atau Bhatari, sedangkan aspek Dewa di dalam krodha (marah) bersifat negative. Misalnya Dewa Ciwa dalam aspek santa disebut Uma, Parwati, Gayatri, Giriputri dan sebagainya sedangkan aspek krodhanya disebut Durga, Kalika, Candika, Singawahini dan sebagainya.
Maka itulah mantra untuk segehan berintikan : Bhuta-bucari, Kala-bucari, Durga-bucari. Setelah diberi yadnya maka Bhuta-kala itu menjadi somya pada diri manusia. Maka itulah di dalam lontar Ciwatattwapurana disebut “Dewa-ya Bhuta-ya Manusa-ya”
Dengan ungkapan ini, maka jelaslah setiap jenis yadnya mengandung unsur Bhuta-yadnya, minimal dalam bentuk segehan. Itu berarti tabuh-rah selalu dipergunakan di setiap upacara. Masalahnya sekarang apakah tabuh-rah berupa darah ataukah berupa tetabuhan aram-berem..???

Tingkatan yadnya yang menggunakan Tabuh-rah
Seperti yang sudah saya kemukakan tadi, bahwa semua jenis upacara Bhuta-Yadnya menggunakan tabuh-rah. Ada tabuh-rah dengan menggunakan darah dan sampai tingkatan mana memakai tabuh-rah dengan sarana tetabuhan arak-berem?
Dalam memecahkan masalah ini saya mengalami kesulitan mendapatkan sumber dari sastra agama. Barangkali sastranya ada, tetapi saya belum menjumpainya. Sebagai rumusan sementara, saya mengambil dari hasil pengamatan dalam praktek upacara Bhuta-Yadnya yang telah berlaku dimasyarakat. Dari hasil pengamatan itu saya mengambil kesimpulan sementara adalah sebagai berikut :
1. Tabuh-rah dengan sarana darah dalam bentuk penyambleh, dilakukan dalam Bhuta-yadnya mulai dari segehan-agung sampai dengan tingkat Bhuta-yadnya yang terbesar.
2. Tabuh-rah dengan sarana tetabuhan arak berem, dilakukan dalam Bhuta-yadnya tingkat segehan biasa (nasi kepel)
3. Di dalam praktek sehari-hari, walaupun sudah menggunakan tabuh dengan darah dalam bentuk penyambleh, namun tetabuhan arak berem juga tetap dipakai, bahkan kadang-kadang ditambah dengan tuak.



(sumber : Seminar Kesatuan Tafsir terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu)
Astungkara.
Lanjut Baca >>

Jumat, 25 Maret 2011

Kelapa Gading sebagai sarana Melukat.



Tulisan saya kali ini akan membahas tentang kelapa gading. Menjawab permintaan teman yang ingin mengetahui mengapa kelapa gading dipakai untuk melukat.

KENAPA KELAPA GADING.
Kenapa klungah kelapa gading yang dipergunakan untu melukat? Kelapa gading adalah simbol CIWA RADITYA. Dengan warna yang kuning keemasan sama dengan warna matahari, maka kelapa gading menyerap cahaya matahari sangat banyak. Ini berarti bahwa kelapa gading menyerap prana matahari yang paling.

Pada jaman dahulu, Ida Pedanda Sakti juga menggunakan klungah/bungkak kelapa gading untuk memperlancar proses ritual beliau. Akibat prana matahari yang kuat, maka air kelapanya memiliki daya pembersih yang sangat kuat. Daya yang demikian kuatnya ini dapat unutuk membersihkan badan secara lahir dan bathin. Mampu merubah aura tubuh menjadi prana ; mampu membuka cakra spiritual; mampu menetralisir pencemaran tubuh manusia , serta mengurangi bekas-bekas pengaruh hewani, membersihkan pengaruh negative magic ataupun mengobati penyakit.
Klungah/bungkak kelapa gading juga bisa digunakan sebagai sarana untuk menerima prana yang berasal dari awatara suci. Namun yang paling penting, sebelum klungah/bungkak digunakan, jangan lupa dibangkitkan dahulu. Bungkak harus dikasturi (dipotong segitiga) terlebih dahulu, selain untuk menguripkan juga membuat mineral yang terdapat dalam air bungkak bereaksi secara kimia. Setelah bungkak siap baru dibangkitkan aura dan prananya sehingga bisa digunakan sebagaimana mestinya untuk kepentingan ritual dan spiritual.


Astungkara.
Lanjut Baca >>

Rabu, 15 Desember 2010

Patung-patung dan Pratima



Agama Hindu di pulau Bali ini banyak sekali menggunakan patung-patung yang berfungsi sebagai patung-patung Perwujudan yang disebut Pratima atau Arca.

Pratima ini bentuknya biasanya kecil dibuat dari kayu cendana atau kayu-kayu yang harum, kadang-kadang dihias dengan emas atau permata dan dapat dikeramatkan sedemikian rupa, hingga bisa dilihat pada hari-hari upacara. Pratima ini menggambarkan perujudan Ida Bhatara dan berfungsi sebagai alat konsentrasi perasaan dan pikiran supaya lebih mantap dan fokus. Ajaran bhakti marga yang sangat berpengaruh di Bali mengutamakan pemujaan yang berwujud pencurahan rasa bhakti yang tidak lain adalah rasa cinta kasih dan penyerahan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi.

Getaran bhakti (cinta kasih), ini merupakan obyek yaitu Pratima dan Palinggihnya. Simbol ini sangat penting bagi penganut bhakti marga, meskipun secara filosofi mereka tahu bahwa Ida Sang Hyang Widhi ada dimana-mana, tidak bisa dilihat, tidak berwujud, namun untuk memantapkan pemusatan perasaan dan pikirannya, mereka membuat pelinggih-pelinggih seolah-olah disanalah Ida Sang Hyang Widhi bertahta.

Mereka membuat pratima, seolah-olah pratima itulah, perwujudan Beliau. Simbol atau perwujudan sangat penting bagi seseorang yang bhakti, walaupun secara akal bisa ditertawakan, karena pretima itu tidaklah lebih dari kayu bahannya namun orang intelek (pandai) pun juga memerlukan perwujudan itu sebagai tanda bhaktinya.

Contoh : cobalah kita melihat upacara menaikkan bendera pada tanggal 17 agustus, semua peserta upacara tunduk dan hormat pada Sang Merah Putih, dan andaikata pada saat itu ada orang yang merobek-robek Sang Merah Putih, semua orang akan menentangnya dan membela sampai mati sekalipun. Padahal, kalau dipikir itu tidak lebih dari secarik kain, tetapi pada saat upacara berfungsi sebagai simbol, mempunyai nilai keramat yang tinggi.
Demikian pula dengan Pratima.

Penyalahgunaanya.
Kini umat Hindu mulai merasa tidak aman, pratima ini menjadi incaran maling dan para orang-orang yang tidak baik, karena harganya cukup mahal sebagai barang antik untuk dijual kepada wisatawan. Cobalah lagi, kalau malingnya tertangkap, paling banyak dia dikenakan hukuman 3 bulan potong masa tahanan, tetapi akibat yang ditimbulkan desa yang kehilangan pratima adalah wajib melaksanakan Penyucian Balik Sumpah yang biayanya mendekati Rp 1-3 juta. Apakah ini adil?? Kita serahkan kepada hakim yang bijaksana.
Patung-patung Dewa, seperti patung Wisnu, Brahma dan sebagainya bahkan gambar Acintyanya dibuat oleh undagi-undagi untuk dijual, bila yang membelinya tidak mengerti akan fungsinya maka akan menimbulkan penyalahgunaan pemakaiannya serta tempat. Riwayatnya sama dengan meru dan pelinggih yang dipakai hiasan lampu.
Lanjut Baca >>

Jumat, 03 Desember 2010

Tunggun Karang


Sebagaimana lazimnya setiap rumah dari penduduk Bali yang beragama Hindu, semiskin-miskinnya mereka akan tetap berusaha untuk memiliki tempat ibadah yang disebut Sanggah atau Pemerajan dan bangunan penjaga rumah secara spiritual yang disebut Tunggun Karang. Bagi umat Hindu, Tunggun Karang ini merupakan hal yang sangat penting fungsinya demi untuk menjaga keselamatan seluruh isi rumah, dari kekuatan-kekuatan tidak baik secara magis maupun pencuri atau orang yang berkemauan tidak baik.

Posisi/Letak
Letak Tunggun Karang itu sepatutnya disebelah Barat Laut dari pekarangan/tanah, yaitu disudut barat laut pekarangan rumah yaitu disudut barat laut pekarangan.

Yang Melinggih
Yang didudukan disana adalah Bhatara Kala. Didalam bahasa sansekerta, Kala itu berarti energi, juga berarti waktu, maka dalam kaitan Tunggun Karang, Kala ini lebih dekat dengan arti energi, yaitu kekuatan yang menjaga keselamatan dari pada seluruh isi keluarga. Didalam mitologinya disebutkan bahwa Bhatara Kala yang selalu merusak dan mengambil korban berupa bencana oleh Bhatara Siwa dibuat menjadi somia, yaitu jinak dan tenang serta kemudian diperintahkan agar bertempat tinggal dipekarangan rumah disudut barat laut, ikut menjaga keselamatan manusia yang tetap ingat kepada Ida Hyang Widhi atau Tuhan.

Dengan demikian kekuatan alam semesta inilah, yang dilukiskan dengan Bhatara Kala, kekuatan alam semesta yang tidak diatur akan bisa membuat bencana, tetapi Bhatara Siwa atau Tuhan Yang Maha Esa yang membuat tenang kekuatan itu dan dianugrahkan kepada manusia agar mendapatkan keselamatan.

Namun kini, sejak berkembangnya hotel di pulau Bali, banyak sekali hotel yang membuat bangunan-bangunan yang menyerupai Tunggun Karang, sehingga dalam satu pekarangan hotel, kalau toh membuat Tunggun Karang semestinya cukup satu saja, tetapi nyatanya mereka membuat banyak dan tiap sudut mungkin dengan maksud agar wisatawan mereka tertarik dengan penonjolan-penonjolan bangunan-bangunan khas Bali.



Astungkara.
Lanjut Baca >>